things are queer

Entries from June 2008

Takkan Kubiarkan Kesendirian Membunuhku

June 27, 2008 · 3 Comments

Dia tidak begitu cakep, dan usianya juga sudah bukan remaja lagi. Mungkin dia seorang make up artist yang sedang sepi job sehingga bisa berjalan-jalan pada jam ketika orang lain sibuk dan suntuk menyelesaikan tugas-tugas di kantor. Dia mengenakan topi, bercelana jins model masa kini yang berkantong belakang lebar dan tas selempang Billabong asli menggelayut di bahunya. Kaos distro membuat dia tampak lebih muda dari usia sesungguhnya. Beberapa menit lagi genap jam 11. Dia baru saja keluar dari areal kolam renang, dan sambil membayangkan pria yang tadi mandi bilas di sebelahnya, dia berjalan ke bagian depan kompleks plaza di Kuningan itu. Melintas di depan gerai toko buku bekas, dia berlalu begitu saja, lalu berdiri di depan lorong menuju fitness centre. Di depan tempat olah kebugaran itu ada toilet yang biasa dimanfaatkan oleh lelaki-lelaki penyuka sesama jenis menyalurkan kegemarannya “menyontek”. Dia tidak masuk ke toilet itu, dan hanya berdiri saja di depan lorong, gamang, seperti mencari sesuatu, seperti menunggu seseorang. Sejenak dia melemparkan pandangannya ke depan, ke arah kerumunan atlet-atlet  basket yang sedang bersiap untuk latihan. Dia memperhatikan tubuh-tubuh tegap berlengan putih jenjang dan terbuka. Pada menit berikutnya, dia sudah mengalihkan pandangannya ke arah jalan. Terlihat beberapa lelaki yang tadi berenang bersamanya, termasuk yang mandi bilas di sebelahnya. Pada hari biasa, di saat jam kerja seperti ini, kolam renang itu ternyata ramai juga oleh pria-pria gay. Apakah mereka tidak bekerja? batinnya. Ah, mungkin pria-pria itu juga punya pertanyaan yang sama atas diriku.

 

 

Tak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah warnet, dan dia sempat menatap pintu seolah tergoda untuk masuk. Tapi, selepas memperhatikan atlet-atlet tadi, dia melangkah menaiki tangga, menuju plaza. Melewati teras sebuah coffee shop dia sempat melirik tiga cowok yang duduk di situ, dan tatapannya bermuara pada satu yang berjaket sport kuning, berkacamata dengan rambut gondrong tipis ala Jepang. Tatapan matanya beradu beberapa detik dengan objek yang diperhatikannya namun dia tahu tidak ada alasan untuk berhenti, menyapa atau melakukan sesuatu yang sebenarnya dia inginkan. Harus ada alasan yang jelas untuk berkenalan dengan seseorang yang bahkan sudah kau yakini punya orientasi seksual yang sama denganmu. Dia berlalu, menuju ke gerai DVD bajakan. Dia melihat-lihat judul-judul DVD yang tertata rapi di rak sambil sesekali menoleh kembali ke arah cowok berjaket kuning. Dia hanya bisa melihat punggungnya. Sampai pada tolehan kesekian, cowok itu sudah menghilang entah kenapa, dan entah mengapa dia merasa kehilangan, merasa telah melewatkan sebuah kesempatan yang dia yakini terbuka untuknya, untuk segala yang bisa dan mungkin dilakukannya. Tiba-tiba dia merasa sangat  bosan, dan berbalik badan meninggalkan tempat itu, melangkah melewati teras coffee shop yang tadi, yang menyisakan kursi-kursi kosong. Dia menuruni tangga yang sama, untuk kemudian tanpa tujuan yang pasti mendorong pintu warnet dan masuk pelan-pelan.

 

Waktu makan siang masih beberapa menit lagi, dan hari masih panjang. Ia tak ingin kembali ke kamar kontrakannnya cepat-cepat –tidak di saat dirinya sedang terbebas dari kesibukan kerja, dan bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Tapi, mengapa mencari satu orang kenalan saja, yang sesuai dengan kriteria yang diinginkannya, begitu susah? Dia merasa cukup tampan untuk pilih-pilih. Dia tahu, lelaki yang tadi mandi bilas di sebelahnya memperlihatkan tanda-tanda tertarik padanya. Dia ingat lelaki itu berkali memelorotkan celananya dan memamerkan penisnya, dan dia menanggapi dengan melakukan hal yang sama. Tapi, semua itu bukan berarti dia tertarik pada lelaki itu. Bukan tipenya. Bukan tipe yang diinginkan untuk diajaknya tidur bersama. Dia masuk ke chat room dan mulai melancarkan aksinya, tapi baru sebentar dia sudah merasa sangat bosan. Belum pernah dia merasa sebosan ini. Kini dia menyesali hari liburnya. Tiba-tiba dia ingin, hidupnya hanya diisi dengan kerja, kerja dan kerja sehingga dia bisa melupakan hasrat-hasrat lainnya. Apakah hidup sudah seputus asa itu? Tidak, dia menepis suara hatinya sendiri dengan keras. Dia bangkit, membayar ongkos warnet dan melangkah keluar, memandang langit lepas sambil berpikir, dia bisa melakukan apa saja yang ia mau, mendapatkan apa saja yang dia ingin, sekarang juga. Takkan kubiarkan kesendirian ini membunuhku.

Categories: Uncategorized

Sosiologi Toilet *)

June 25, 2008 · 4 Comments

Beberapa teman-jalan-malam-minggu saya punya kebiasaan yang menyebalkan setiap kami janjian untuk ketemuan. Saya sudah menunggu agak lama -kalau saya yang datang duluan- eh, giliran dia datang, tidak langsung menemui saya, tapi melambaikan tangan dari jauh, memberi isyarat bahwa dia akan ke toilet dulu. Tujuannya: ngaca, merapikan rambut, dan kalau perlu cuci muka. Gara-gara berteman dengan beberapa orang yang memiliki kebiasaan seperti itu, saya jadi paham mengapa toilet-toilet di mal-mal di Jakarta diberi label restroom. Atau, bahkan ada yang cuma “men’s room”/”women’s room”. Artinya, fungsi toilet bukan sekedar untuk buang air, besar maupun kecil. Dalam bahasa yang lebih ‘ngelmu’, toilet memiliki fungsi sosial yang cukup luas.

 

Saya jadi ingat toilet di sekolah saya dulu yang dinding-dindingnya penuh coretan. Ada gambar hati ditembus panah, ada nama-nama perempuan dan laki-laki dan ada pernyataan-pernyataan yang bersifat pribadi. Setiap membaca coretan-coretan itu, dulu, saya sering mikir, kok ya sempat-sempatnya orang yang melakukan itu. Apakah mereka memang niat dari awal, sehingga ketika hendak buang air menyiapkan pulpen/spidol di kantong? Bertahun kemudian, setelah mendapat kuliah Pengantar Sosiologi, saya baru bisa mengatakan bahwa itulah salah satu fungsi sosial toilet umum. Termasuk toilet di sekolah. Bahkan, semasa kuliah itu, saya melihat toilet di kampus pun -yang penghuninya notabene orang-orang yang dicitrakan sebagai kelompok intelektual- tak luput dari graffiti-grafiti konyol.

 

Salah satu adegan dalam film Janji Joni karya Joko Anwar dengan sangat baik menggambarkan fungsi sosial lain dari toilet. Yakni, sebagai salah satu arena bagi berlangsungnya salah satu bentuk ikatan sosial: bergosip. Mungkin Anda sendiri melakukannya. Begitu keluar dari bioskop, Anda biasanya setengah berlari ke toilet dan di situlah, sambil berdiri di urinoir membuang air kencing, Anda membicarakan film yang baru saja Anda tonton dengan teman atau pasangan Anda. Pada masa-masa awal saya meniti karier (ceileee!) kewartawanan di Jakarta, saya mendengar dari teman saya, seorang wartawan tabloid ‘esek-esek’ bahwa toilet di Blok M Plaza sering digunakan oleh cowok-cowok gay mencari mangsa. Mereka bahkan melakukan aksinya di situ, baik sekedar saling melihat penis atau lebih jauh lagi, seks oral. Belakangan saya tahu, saling melihat penis itu namanya “nyontek”, dan melakukan hubungan seks kilat (apa pun bentunya) itu istilahnya “cruising”.

 

Dan, belakangan saya tahu lebih banyak lagi. Bahwa toilet umum merupakan titik penting bagi perjumpaan sosial kaum gay metropolitan. Tidak hanya toilet mall, melainkan hampir semua toilet yang terbuka untuk publik, dari masjid hingga terminal! Saya ingat, pada awal 2000-an, sebuah tabloid di Jakarta melaporkan adanya sejumlah gay yang suka beraksi di urinoir Masjid Istiqlal yang memang “sangat terbuka” dan memungkinkan pria-pria gay “menyontek”. Lama kelamaan aksi sembunyi-sembunyi itu terendus, dan pihak masjid pun membuat pun melakukan langkah preventif dengan membuat sekat-sekat pada urinoir tersebut. Pantauan terbaru saya belum lama ini ke toilet Terminal Blok M yang kumuh, ternyata juga mendapati jejak-jejak aksi kaum gay. Pada toilet yang berbilik (baca: kamar mandi) terdapat coretan-coretan di dinding berupa nama dan nomer telepon dengan tambahan informasi serupa “butuh brondong” atau “melayani oral seks”.

 

Pusat-pusat keramaian di Jakarta, dalam aneka bentuk dan sebutan, dari mall hingga town square, telah melahirkan komunitas-komunitas gay yang memang tak pernah henti mencari ruang-ruang sosialisasi. Toilet barangkali hanya bagian kecil, dan mungkin tahap awal, dari modus sosialisasi itu. Di toilet, kau tak perlu kenal siapa lelaki di sebelahmu, dan tanpa perlu saling menyebutkan nama terlebih dahulu, kau sudah langsung bisa melihat seberapa besar penisnya, apa warnanya dan sebagus apa bentuknya. Ini tentu gambaran ekstremnya. Orang bisa menyebut itu seks instan, atau petualangan, tapi setiap orang -saya percaya- cukup dewasa untuk tahu apa yang dilakukannya. Saya punya teman yang bahkan diajak ketemuan di mall pun ogah dengan alasan ini dan itu. Tapi, saya juga berteman baik dengan orang yang telah kecanduan “nyontek”, bahkan “cruising” di toilet.

 

Dia, teman saya yang ini, hafal wajah orang-orang yang suka “main” di toilet Plaza Indonesia (dan E.X), Ada bule tua, dan ada juga brondong, katanya. Teman saya pernah mencoba hampir semua dari mereka, baik cuma “contek-contekan”, atau sekedar pegang-pegangan sampai tegang, maupun oral. Di dalam toilet yang berdinding? Tidak, melainkan ya di depan deretan urinoir itu. Menurut dia, kalau di dalam toilet yang berdinding justru berisiko lebih besar karena kalau ketahuan mau lari ke mana? Sedangkan, kalau di luar, maksudnya di depan urinoir yang terbuka, bisa mengantisipasi kalau sewaktu-waktu ada orang masuk. Begitu terdengar suara pintu dibuka, langsung berhenti dan pura-pura kencing lagi, katanya. Apa tidak takut kepergok satpam? Apa tidak begini? Apa tidak begitu? Kalau begini gimana? Kalau begitu gimana? Pertanyaan saya tak ada habisnya, tapi teman saya selalu punya jawaban yang membuat segalanya seolah-olah begitu sederhana. Memang susah membayangkannya, tapi teman saya menceritakannya dengan wajah yang berseri-seri, menandakan bahwa ia sangat berpengalaman dan menikmati petualangannya itu. 

 

*) tulisan ini diambil dari http://mumualoha.blogspot.com atas izin –dan telah diperbarui dengan data-data baru oleh– pemiliknya.

Categories: Uncategorized

Sepuluh Ribu Bonus “Nyontek” Gratis

June 24, 2008 · 8 Comments

 

 

Di antara sekian banyak hal yang bisa dilakukan sepulang kerja, berenang merupakan aktivitas favorit sebagian pria-pria homoseksual di Jakarta. Tentunyaaaa! Chatting? Udah nggak “njaman”. Fitnes? Itu hanya kerjaan binan-binan gatel tapi munafik. Beraninya curi-curi pandang ke arah paha atau bokong cowok di sebelah dengan muka pengen, tapi nggak berani lebih dari itu! Renang itu lebih jujur, dan tentu saja hasilnya lebih maksimal dalam mendatangkan kepuasan. Kepuasan apa nih? Jangan cerewet, ikut sajalah! Kita di masa depan. Tapi, kita tidak sedang menuju Jakarta Barat, melainkan Pasar Festival Kuningan. Di situ ada kolam renang yang cukup  legendaris. Tiketnya Rp 10 ribu, dengan bonus “nyontek” gratis, kalau mau. Kenapa musti pakai “kalau mau”? Sebab, di sini kau akan lebih banyak bertemu dengan bapak-bapak tua, benar-benar tua (tandanya: kulit udah keriput), dan mas-mas kantoran berperut buncit, cina maupun pribumi. Oke, mungkin kau akan bilang, apa salahnya bapak-bapak atau mas-mas kalau emang cakep. Saya kasih tahu ya, mereka telanjang bulat pun kau tak akan tergoda, bahkan rasanya tak tega untuk sekedar meliriknya. Oh My God, separah itukah?

 

Tentu saja “horor” tadi hanya sebagian kecil saja sisi kolam renang Pasar Festival. Selebihnya, tempat ini tetap cukup menjanjikan. Yeah, tarafnya emang cuma “cukup”, tidak banyak atau apalagi lebih. Tapi, ya tergantung juga sih, apakah hari itu sedang hari keberuntunganmu. Yang jelas, di sinilah segala hasrat terpendam bisa disalurkan. Tentu saja di sini pun kita akan bertemu orang-orang munafik. Tapi, persetanlah dengan mereka. Maksud saya, orang-orang seperti itu di mana-mana memang ada kan, dan itu menyedihkan, jadi ya biarkan saja mereka, lama-lama juga lumutan. Jadi, asik-asik dan santai-santai saja, nyamankan diri sendiri sesuai dorongan hati nurani (aduh, ini ngomong apa sih hihihi). Tips dari saya, nikmati saja apa yang bisa dinikmati sebagai pemandangan. Maksud saya, selain oom-oom berperut buncit yang, well, tidak sedap dipandang tadi, sebenarnya tetap ada kok brondong-brondong berboxer tipis atau cowok-cowok usia kuliahan atau pun sudah kerja, berkulit mulus, bertubuh bagus dengan celana renang yang sangat mini dan ketat. Dan, jangan khawatir, akan selalu ada cowok-cowok yang sadar kalau dirinya memang cukup indah dipandang mata, sehingga punya  kecenderungan eksibisionis alias suka pamer. Mereka ini sebagian ada yang tidak mengenakan celana renang, melainkan celana dalam, biasanya dari merk yang mahal (namanya juga pamer kan?) dan mereka tidak nyemplung di kolam tapi mondar-mandir, entah ke kantin atau ke toilet.

 

Mondar-mandir memang merupakan aktivitas yang cukup mendominasi di sini. Artinya, yang benar-benar datang untuk berenang boleh jadi cuma 30 persen. Selebihnya, tujuan utama mereka adalah ruang bilas/ruang ganti. Mereka akan berlama-lama di shower sambil saling pamer tubuh dan saling pandang. Para eksibisionis akan melepas celana renang atau boxer mereka, hingga tinggal menyisakan celana dalam, lalu mandi di bawah shower sambil memutar-mutar tubuhnya, sengaja, agar orang lain bisa melihat perut mereka yang rata, dan bulu-bulu kemaluan yang menyembul dari bagian atas celana dalam. Mereka juga akan menyabun tubuh-tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang, ow, sok seksi dan mengundang. Dan, nanti, ada saatnya mereka akan merogoh-rogohkan tangan ke balik celana untuk membersihkan apa yang ada di dalamnya. Mereka akan mandi berlama-lama, selama mungkin mereka bisa. Dan, semua itu akan berlanjut di kamar ganti yang bertirai. Di sini pun orang akan berlama-lama. Mula-mula naruh tas dulu, lalu keluar, ngaca di depan cermin yang ada di situ, lalu “meninjau” urinoir siapa tahu ada yang “layak contek” lalu balik lagi ke baik tirai untuk mulai berpakain. Kadang ada yang keluar lagi dari tirai dengan hanya bercelana dalam, bercermin lagi, pamer atau sengaja mengundang, siapa tahu ada yang berminat.

 

Ada juga yang datang ke kolam renang dengan pasangannya, atau rombongan satu geng, dan mereka akan berisik sekali selama di mandi bilas dan di kamar ganti. Jangan terkejut kalau ada mas-mas gendut berkumis bicara dengan pasangannya di depan kamar ganti dengan mesra seperti ini, “Papa sudah selesai belum?” Sedangkan yang punya rombongan akan bercanda dan tertawa keras-keras, berusaha menjadi pusat perhatian. Ada yang datang hanya untuk duduk-duduk di pinggiran kolam, ngrumpi, menelepon berlama-lama, atau janjian ketemuan. Pada hari-hari biasa, kolam renang praktis jadi milik para gay. Sedangkan pada akhir pekan, di samping para gay tetap mendominasi, banyak anak-anak kecil yang diantarkan orangtua mereka. Para orangtua yang menunggui anak-anak mereka berenang itu mendapatkan pemandangan yang sering membuat mereka terbengong-bengong: pria berbadan kekar, bertampang macho, kulit gelap, dengan celana renang mini warna pink kembang-kembang, mondar-mandir dari kolam ke toilet sambil melenggak-lenggokkan kepalanya dan mulut tak henti bersenandung, “Kau hancurkan aku dengan sikaaapmuuuuuuu….”

Categories: Uncategorized

Ketika Kuda Ungu Berpose di Depan Bunga-bunga

June 20, 2008 · Leave a Comment

 Kahlil Gibran hidup pada era yang jauh sebelum Gap dan Zara merambah kota-kota di seluruh dunia. Tak heran jika dalam salah satu syairnya, dia menulis lirik yang berbunyi, pakaian menyembunyikan keindahan.

Kita hidup di zaman ketika fashion benar-benar telah mengubah wajah dunia. Belum pernah terjadi sebelumnya lelaki-lelaki terlihat begitu anggun dan menawan (dan perempuan-perempuan semakin dinamis dan elegan). Pakaian yang melekat di tubuh telah jauh meninggalkan fungsi dasarnya yang berkaitan dengan tuntutan kemanusiaan (menutup kemaluan, tata-krama sosial). Melainkan, memiliki “otonomi” yang besar sebagai bagian dari “eksistensi” itu sendiri. Dengan kata lain, busana yang kita kenakan mendefinisikan siapa diri kita, status kita dalam masyarakat dan menentukan berbagai citra lain yang lebih luas dan kompleks.

 

Maka, berkebalikkan dari apa yang pernah dikatakan Gibran, saat ini pakaian tidak penyembunyikan –tapi menegaskan, menambah dan menyempurnakan– keindahan (tubuh) kita. Fashion pun menjadi sebuah sistem yang “melampaui” tubuh. Dia memberi (tubuh) kita identitas. Kalau ada revolusi paling besar dan paling tidak berdarah dalam sejarah umat manusia, maka itu tak lain revolusi fashion. Mungkin saya agak berlebihan dengan membawa-mbawa istilah revolusi. Tapi, coba perhatikan ilustrasi kecil ini, yang barangkali bisa bercerita banyak tentang apa yang terjadi: pria-pria muda dengan boxer yang menyembul dari balik ujung celana jins mereka.

 

Boxer-boxer itu tidak (semata) berfungsi sebagai “celana dalam”. Mereka bagian dari kesadaran berfashion yang sama pentingnya dengan jins (dan baju) yang ada di luarnya. Warnanya dipilih dengan perhitungan estetis, juga motifnya. Tak seorang pun memakai boxer dengan sembarangan, melainkan diperhitungkan sebagai bagian dari penampilan secara keseluruhan. Boxer adalah sebuah ekstrem yang mengubah definisi (maskulitas) laki-laki.

 

Duapuluh atau bahkan 10 tahun lalu, sulit membayangkan pria-pria “berani” memakai kaos kuning atau hijau, celana kotak-kotak jambon sebatas dengkul, dan memamerkan “kolor” (baca: boxer) berwarna merah hati motif polkadot putih kecil-kecil, atau pink bergambar karakter-karakter kartun. Inilah revolusi: ketika kuda ungu berpose di depan bunga-bunga, maka citra dan identitas maskulin telah berubah untuk selamanya…

Categories: Uncategorized

Cowok Berkaos “Bad Girl”

June 12, 2008 · Leave a Comment

Habis mengaduk-aduk DVD bajakan di Glodok Plaza, seperti biasa, aku membeli segelas teh liang kesukaanku. Badan yang letih dan lengket oleh keringat jadi terasa segar kembali. Segelas teh dingin nan manis itu seperti menyuntikkan energi baru untuk melangkah ke halte busway. Begitu lihat antrian yang cukup panjang, badan mendadak jadi lemas kembali. Untunglah, selalu ada pemandangan segar yang membuat segala duka dan lara di perjalanan mudah terlupakan. Apalagi ini Glodok. Cowok-cowok cina bertebaran, dengan celana tiga perempat dan tak jarang mengenakan tanktop yang memperlihatkan lengan yang putih, padat dan jenjang. Tapi, sumber kegairahanku pada Minggu siang kemarin itu bukankah pemandangan seperti itu, melainkan seorang cowok berkaos kuning bertuliskan “Bad Girl”. Dia mengantri di loket busway tepat di belakangku, lalu masuk dengan langkah ragu-ragu. “Mau ke mana sih, tanya ama gue sini!” Tentu saja kalimat itu hanya terucap di dalam hati. Gila apa, kalau aku seberani itu. Maksudku, kalau aku seberani itu, pastilah hidup ini jadi jauh lebih mudah. Dia bertanya pada penjaga, lalu masuk ke barisan antrian menunggu busway datang. Aku duduk, memandanginya, dan masih memikirkan warna kaosnya (kuning?) dan tulisan di kaos itu (“bad girl”?).

 

Inilah salah satu bagian paling menarik dari berjalan-jalan di kota ini. Cowok berumur 20-an tahun adalah satu hal, dan kaos bad girl adalah hal yang lain. Ketika itu dua subjek itu bertemu, menyatu, membentuk sebuah subjek “baru” yang utuh, maka tidak bisa tidak, melahirkan makna baru pula, dan dengan demikian mengundang penafsiran baru. Tidak perlu belajar semiotika untuk melihat bagaimana Jakarta sehari-hari membuka dirinya, lapis demi lapis, seperti film misteri yang perlahan-lahan menuntun penontonnya menguak teki-teki hingga sampai pada akhir cerita yang terang. Tidak penting lagi, apakah memang benar-benar ada “misteri” di balik kaos bad girl itu, sebab pada akhirnya, yang terpenting adalah persepsi yang telanjur menancap di kepala. Persepsi yang sengaja kita paksakan, tanpa peduli kebenarannya, karena memang tidak diperlukan kebenaran apapun. Ketika kita melihat satu cowok di antara 5 cewek, dengan riuh mengantri di kios foto box Blom M Plaza, otak ini langsung dengan centil mengirimkan sinyal, “Hmm…pasti deh dia gay!” Atau, ketika melihat cowok berjalan sendirian di Plaza Indonesia, dengan syal hitam melambai-lambai di lehernya dan tas Louise Vuitton palsu menjuntai di pundaknya…”Wow, binan banget!”

 

Cowok berkaos “bad girl” itu akhirnya satu busway denganku, tapi dia turun lebih dulu. Tubuhnya yang tinggi, punggungnya yang kurus namun tegap dan kulitnya yang terang nan mengundang, perlahan-lahan menjauh dari pandanganku, dan akhirnya benar-benar menghilang. Beberapa menit setelah itu, aku masih memikirkannya, terbayang-bayang pada misterinya. Namun, ketika menit terus berjalan dan semakin jauh, aku pun dengan sendirinya melupakannya. Untuk kemudian, menemukan misteri-misteri serupa, kegairahan-kegairahan di balik penampilan, ekspresi ungkapan identitas yang malu-malu, yang tak putus-putus datang dan pergi, di ruang-ruang publik kota, menjadi semacam kelebat bayangan di pelupuk mata. 

 

 

 

Categories: Uncategorized

Berbeda-beda tapi Harus yang Itu-itu Juga

June 12, 2008 · 2 Comments

Waktu dulu bapak-bapak dan ibu-ibu guru mengajarkan kepada kita tentang Bhinneka Tunggal Ika, tanpa kita sadari, kebolehan untuk berbeda itu sebenarnya dibatasi juga. Bebas memeluk agama apa saja, asal salah satu dari yang lima itu. Dari suku mana pun asalmu tidak masalah, tapi, kalau kau keturunan etnis Cina, tahu sendirilah. Dan jangan tanya lagi soal di mana tempat bagi misalnya kaum gay, lesbian dan transeksual dalam konsep luhur Bhinneka Tunggal Ika itu. Orang Jawa punya ungkapan “begitu ya begitu tapi ya jangan begitu-begitu amatlah”. Dalam konteks Bhinneka tadi sebenarnya berlaku “beda ya beda tapi ya jangan beda-beda banget gitu lho!”

 

Belakangan ini, isu tentang perbedaan mengemuka menjadi bahan diskusi di mana-mana. Semakin tampak bahwa masyarakat kita sebenarnya fobia terhadap keanekaragaman. Jangankan jelas-jelas beda agama, lha wong dalam satu agama yang sama saja orang bisa gontok-gontokkan, saling merasa kelompok atau alirannya yang paling benar dan seterusnya. Dalam soal suku asal, yang terjadi juga tak jauh beda. Kita masih sering mendengar orang mengolok lainnya dengan ungkapan, “Dasar Jawir lu!”, “Maklum kalau dia pelit, Padang sih!”, “Dia kan tipe Sunda matre, bok!” dan sebagainya.

 

Lebih gawat lagi kalau sudah memasuki isu identitas seksual. Sejauh ini, orang masih menganggap bahwa gay, lesbian dan transeksual itu penyakit, dan oleh karenanya harus disembuhkan. Lihat saja kolom-kolom konsultasi psikologi di koran-koran. Kita mengelus dada menyaksikan betapa mereka yang berprofesi psikolog saja masih memandang bahwa homoseksualitas itu penyimpangan. Hal ini diperparah dengan berbagai tayangan televisi yang setiap kali menampilkan sosok gay, lesbian maupun waria selalu hanya difungsikan sebagai pelengkap penderita, bahan tertawaan, objek olok-olokan hingga simbol kemerosotan moral.

 

Menyusul terjadinya peristiwa FPI vs AKKBB yang sepertinya akan berlanjut dengan gelombang besar penolakan terhadap Ahmadiyah, rasanya menjadi berbeda di negeri ini semakin berat dan sulit. Ini memang soal mind set. Soal ideologi. Berbeda tidak hanya dianggap “salah”, tapi juga berarti “melawan” dan mengancam eksistensi mayoritas. Kalau kau berbeda, kau membuat orang lain ketakutan, karena perbedaanmu membuat mereka meragukan “kebenaran” keberadaan mereka selama ini.

Categories: Uncategorized

Queer Eyes for Jakarta

June 12, 2008 · Leave a Comment

Serombongan brondong lucu-lucu “beredar” di Blitz pada malam Minggu itu. Seperti biasa, semakin malam semakin ramai saja kompleks sinema di lantai 8 Grand Indonesia yang menjadi tempat hang out baru anak-anak gaul Jakarta, termasuk, tentu saja kalangan gay-nya. Dan, tidak sulit memang mengindentifikasi bahwa serombongan brondong tadi itu adalah para gay yang sedang merayakan masa-masa akhir usia SMU mereka. Salah satu di antara mereka tampak menenteng DVD (bajakan tentu saja) Gossip Girls episode 18. Sementara, pada bagian lain dari kota yang sama, dengan jarak yang tak terlalu jauh, lelaki-lelaki gay yang sudah tidak remaja lagi, memenuhi bangku-bangku Kafe Ohlala Djakarta Theater, minum bir botol sambil menyaksikan American Top Model dari dua layar televisi besar yang dipasang di dinding. Ini tahun 2008. Tidak ada lagi cowok yang malu-malu berdandan dan berjalan ngondek memasuki Halte Busway Blok M untuk menuju ke ML, diskotek kumuh namun satu-satunya gay-club di Indonesia, yang terletak di Jalan Hayam Wuruk. Ini era ketika seorang barista Starbucks, anggota penari latar Agnes Monica dan seorang make-up artist duduk satu meja dan dengan fasih membahas serial Dante’s Cove dan Queer as Folk. Kau di mana-mana atau pun tidak di mana-mana, Jakarta tetap akan membuka dirinya sebagai ruang-ruang yang semakin ter-queer-kan. Selamat datang, dan bergabung…

 

 

 

Categories: Uncategorized