Kahlil Gibran hidup pada era yang jauh sebelum Gap dan Zara merambah kota-kota di seluruh dunia. Tak heran jika dalam salah satu syairnya, dia menulis lirik yang berbunyi, pakaian menyembunyikan keindahan.
Kita hidup di zaman ketika fashion benar-benar telah mengubah wajah dunia. Belum pernah terjadi sebelumnya lelaki-lelaki terlihat begitu anggun dan menawan (dan perempuan-perempuan semakin dinamis dan elegan). Pakaian yang melekat di tubuh telah jauh meninggalkan fungsi dasarnya yang berkaitan dengan tuntutan kemanusiaan (menutup kemaluan, tata-krama sosial). Melainkan, memiliki “otonomi” yang besar sebagai bagian dari “eksistensi” itu sendiri. Dengan kata lain, busana yang kita kenakan mendefinisikan siapa diri kita, status kita dalam masyarakat dan menentukan berbagai citra lain yang lebih luas dan kompleks.
Maka, berkebalikkan dari apa yang pernah dikatakan Gibran, saat ini pakaian tidak penyembunyikan –tapi menegaskan, menambah dan menyempurnakan– keindahan (tubuh) kita. Fashion pun menjadi sebuah sistem yang “melampaui” tubuh. Dia memberi (tubuh) kita identitas. Kalau ada revolusi paling besar dan paling tidak berdarah dalam sejarah umat manusia, maka itu tak lain revolusi fashion. Mungkin saya agak berlebihan dengan membawa-mbawa istilah revolusi. Tapi, coba perhatikan ilustrasi kecil ini, yang barangkali bisa bercerita banyak tentang apa yang terjadi: pria-pria muda dengan boxer yang menyembul dari balik ujung celana jins mereka.
Boxer-boxer itu tidak (semata) berfungsi sebagai “celana dalam”. Mereka bagian dari kesadaran berfashion yang sama pentingnya dengan jins (dan baju) yang ada di luarnya. Warnanya dipilih dengan perhitungan estetis, juga motifnya. Tak seorang pun memakai boxer dengan sembarangan, melainkan diperhitungkan sebagai bagian dari penampilan secara keseluruhan. Boxer adalah sebuah ekstrem yang mengubah definisi (maskulitas) laki-laki.
Duapuluh atau bahkan 10 tahun lalu, sulit membayangkan pria-pria “berani” memakai kaos kuning atau hijau, celana kotak-kotak jambon sebatas dengkul, dan memamerkan “kolor” (baca: boxer) berwarna merah hati motif polkadot putih kecil-kecil, atau pink bergambar karakter-karakter kartun. Inilah revolusi: ketika kuda ungu berpose di depan bunga-bunga, maka citra dan identitas maskulin telah berubah untuk selamanya…
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.