things are queer

Sepuluh Ribu Bonus “Nyontek” Gratis

June 24, 2008 · 8 Comments

 

 

Di antara sekian banyak hal yang bisa dilakukan sepulang kerja, berenang merupakan aktivitas favorit sebagian pria-pria homoseksual di Jakarta. Tentunyaaaa! Chatting? Udah nggak “njaman”. Fitnes? Itu hanya kerjaan binan-binan gatel tapi munafik. Beraninya curi-curi pandang ke arah paha atau bokong cowok di sebelah dengan muka pengen, tapi nggak berani lebih dari itu! Renang itu lebih jujur, dan tentu saja hasilnya lebih maksimal dalam mendatangkan kepuasan. Kepuasan apa nih? Jangan cerewet, ikut sajalah! Kita di masa depan. Tapi, kita tidak sedang menuju Jakarta Barat, melainkan Pasar Festival Kuningan. Di situ ada kolam renang yang cukup  legendaris. Tiketnya Rp 10 ribu, dengan bonus “nyontek” gratis, kalau mau. Kenapa musti pakai “kalau mau”? Sebab, di sini kau akan lebih banyak bertemu dengan bapak-bapak tua, benar-benar tua (tandanya: kulit udah keriput), dan mas-mas kantoran berperut buncit, cina maupun pribumi. Oke, mungkin kau akan bilang, apa salahnya bapak-bapak atau mas-mas kalau emang cakep. Saya kasih tahu ya, mereka telanjang bulat pun kau tak akan tergoda, bahkan rasanya tak tega untuk sekedar meliriknya. Oh My God, separah itukah?

 

Tentu saja “horor” tadi hanya sebagian kecil saja sisi kolam renang Pasar Festival. Selebihnya, tempat ini tetap cukup menjanjikan. Yeah, tarafnya emang cuma “cukup”, tidak banyak atau apalagi lebih. Tapi, ya tergantung juga sih, apakah hari itu sedang hari keberuntunganmu. Yang jelas, di sinilah segala hasrat terpendam bisa disalurkan. Tentu saja di sini pun kita akan bertemu orang-orang munafik. Tapi, persetanlah dengan mereka. Maksud saya, orang-orang seperti itu di mana-mana memang ada kan, dan itu menyedihkan, jadi ya biarkan saja mereka, lama-lama juga lumutan. Jadi, asik-asik dan santai-santai saja, nyamankan diri sendiri sesuai dorongan hati nurani (aduh, ini ngomong apa sih hihihi). Tips dari saya, nikmati saja apa yang bisa dinikmati sebagai pemandangan. Maksud saya, selain oom-oom berperut buncit yang, well, tidak sedap dipandang tadi, sebenarnya tetap ada kok brondong-brondong berboxer tipis atau cowok-cowok usia kuliahan atau pun sudah kerja, berkulit mulus, bertubuh bagus dengan celana renang yang sangat mini dan ketat. Dan, jangan khawatir, akan selalu ada cowok-cowok yang sadar kalau dirinya memang cukup indah dipandang mata, sehingga punya  kecenderungan eksibisionis alias suka pamer. Mereka ini sebagian ada yang tidak mengenakan celana renang, melainkan celana dalam, biasanya dari merk yang mahal (namanya juga pamer kan?) dan mereka tidak nyemplung di kolam tapi mondar-mandir, entah ke kantin atau ke toilet.

 

Mondar-mandir memang merupakan aktivitas yang cukup mendominasi di sini. Artinya, yang benar-benar datang untuk berenang boleh jadi cuma 30 persen. Selebihnya, tujuan utama mereka adalah ruang bilas/ruang ganti. Mereka akan berlama-lama di shower sambil saling pamer tubuh dan saling pandang. Para eksibisionis akan melepas celana renang atau boxer mereka, hingga tinggal menyisakan celana dalam, lalu mandi di bawah shower sambil memutar-mutar tubuhnya, sengaja, agar orang lain bisa melihat perut mereka yang rata, dan bulu-bulu kemaluan yang menyembul dari bagian atas celana dalam. Mereka juga akan menyabun tubuh-tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang, ow, sok seksi dan mengundang. Dan, nanti, ada saatnya mereka akan merogoh-rogohkan tangan ke balik celana untuk membersihkan apa yang ada di dalamnya. Mereka akan mandi berlama-lama, selama mungkin mereka bisa. Dan, semua itu akan berlanjut di kamar ganti yang bertirai. Di sini pun orang akan berlama-lama. Mula-mula naruh tas dulu, lalu keluar, ngaca di depan cermin yang ada di situ, lalu “meninjau” urinoir siapa tahu ada yang “layak contek” lalu balik lagi ke baik tirai untuk mulai berpakain. Kadang ada yang keluar lagi dari tirai dengan hanya bercelana dalam, bercermin lagi, pamer atau sengaja mengundang, siapa tahu ada yang berminat.

 

Ada juga yang datang ke kolam renang dengan pasangannya, atau rombongan satu geng, dan mereka akan berisik sekali selama di mandi bilas dan di kamar ganti. Jangan terkejut kalau ada mas-mas gendut berkumis bicara dengan pasangannya di depan kamar ganti dengan mesra seperti ini, “Papa sudah selesai belum?” Sedangkan yang punya rombongan akan bercanda dan tertawa keras-keras, berusaha menjadi pusat perhatian. Ada yang datang hanya untuk duduk-duduk di pinggiran kolam, ngrumpi, menelepon berlama-lama, atau janjian ketemuan. Pada hari-hari biasa, kolam renang praktis jadi milik para gay. Sedangkan pada akhir pekan, di samping para gay tetap mendominasi, banyak anak-anak kecil yang diantarkan orangtua mereka. Para orangtua yang menunggui anak-anak mereka berenang itu mendapatkan pemandangan yang sering membuat mereka terbengong-bengong: pria berbadan kekar, bertampang macho, kulit gelap, dengan celana renang mini warna pink kembang-kembang, mondar-mandir dari kolam ke toilet sambil melenggak-lenggokkan kepalanya dan mulut tak henti bersenandung, “Kau hancurkan aku dengan sikaaapmuuuuuuu….”

Categories: Uncategorized

8 responses so far ↓

Leave a Comment