Beberapa teman-jalan-malam-minggu saya punya kebiasaan yang menyebalkan setiap kami janjian untuk ketemuan. Saya sudah menunggu agak lama -kalau saya yang datang duluan- eh, giliran dia datang, tidak langsung menemui saya, tapi melambaikan tangan dari jauh, memberi isyarat bahwa dia akan ke toilet dulu. Tujuannya: ngaca, merapikan rambut, dan kalau perlu cuci muka. Gara-gara berteman dengan beberapa orang yang memiliki kebiasaan seperti itu, saya jadi paham mengapa toilet-toilet di mal-mal di Jakarta diberi label restroom. Atau, bahkan ada yang cuma “men’s room”/”women’s room”. Artinya, fungsi toilet bukan sekedar untuk buang air, besar maupun kecil. Dalam bahasa yang lebih ‘ngelmu’, toilet memiliki fungsi sosial yang cukup luas.
Saya jadi ingat toilet di sekolah saya dulu yang dinding-dindingnya penuh coretan. Ada gambar hati ditembus panah, ada nama-nama perempuan dan laki-laki dan ada pernyataan-pernyataan yang bersifat pribadi. Setiap membaca coretan-coretan itu, dulu, saya sering mikir, kok ya sempat-sempatnya orang yang melakukan itu. Apakah mereka memang niat dari awal, sehingga ketika hendak buang air menyiapkan pulpen/spidol di kantong? Bertahun kemudian, setelah mendapat kuliah Pengantar Sosiologi, saya baru bisa mengatakan bahwa itulah salah satu fungsi sosial toilet umum. Termasuk toilet di sekolah. Bahkan, semasa kuliah itu, saya melihat toilet di kampus pun -yang penghuninya notabene orang-orang yang dicitrakan sebagai kelompok intelektual- tak luput dari graffiti-grafiti konyol.
Salah satu adegan dalam film Janji Joni karya Joko Anwar dengan sangat baik menggambarkan fungsi sosial lain dari toilet. Yakni, sebagai salah satu arena bagi berlangsungnya salah satu bentuk ikatan sosial: bergosip. Mungkin Anda sendiri melakukannya. Begitu keluar dari bioskop, Anda biasanya setengah berlari ke toilet dan di situlah, sambil berdiri di urinoir membuang air kencing, Anda membicarakan film yang baru saja Anda tonton dengan teman atau pasangan Anda. Pada masa-masa awal saya meniti karier (ceileee!) kewartawanan di Jakarta, saya mendengar dari teman saya, seorang wartawan tabloid ‘esek-esek’ bahwa toilet di Blok M Plaza sering digunakan oleh cowok-cowok gay mencari mangsa. Mereka bahkan melakukan aksinya di situ, baik sekedar saling melihat penis atau lebih jauh lagi, seks oral. Belakangan saya tahu, saling melihat penis itu namanya “nyontek”, dan melakukan hubungan seks kilat (apa pun bentunya) itu istilahnya “cruising”.
Dan, belakangan saya tahu lebih banyak lagi. Bahwa toilet umum merupakan titik penting bagi perjumpaan sosial kaum gay metropolitan. Tidak hanya toilet mall, melainkan hampir semua toilet yang terbuka untuk publik, dari masjid hingga terminal! Saya ingat, pada awal 2000-an, sebuah tabloid di Jakarta melaporkan adanya sejumlah gay yang suka beraksi di urinoir Masjid Istiqlal yang memang “sangat terbuka” dan memungkinkan pria-pria gay “menyontek”. Lama kelamaan aksi sembunyi-sembunyi itu terendus, dan pihak masjid pun membuat pun melakukan langkah preventif dengan membuat sekat-sekat pada urinoir tersebut. Pantauan terbaru saya belum lama ini ke toilet Terminal Blok M yang kumuh, ternyata juga mendapati jejak-jejak aksi kaum gay. Pada toilet yang berbilik (baca: kamar mandi) terdapat coretan-coretan di dinding berupa nama dan nomer telepon dengan tambahan informasi serupa “butuh brondong” atau “melayani oral seks”.
Pusat-pusat keramaian di Jakarta, dalam aneka bentuk dan sebutan, dari mall hingga town square, telah melahirkan komunitas-komunitas gay yang memang tak pernah henti mencari ruang-ruang sosialisasi. Toilet barangkali hanya bagian kecil, dan mungkin tahap awal, dari modus sosialisasi itu. Di toilet, kau tak perlu kenal siapa lelaki di sebelahmu, dan tanpa perlu saling menyebutkan nama terlebih dahulu, kau sudah langsung bisa melihat seberapa besar penisnya, apa warnanya dan sebagus apa bentuknya. Ini tentu gambaran ekstremnya. Orang bisa menyebut itu seks instan, atau petualangan, tapi setiap orang -saya percaya- cukup dewasa untuk tahu apa yang dilakukannya. Saya punya teman yang bahkan diajak ketemuan di mall pun ogah dengan alasan ini dan itu. Tapi, saya juga berteman baik dengan orang yang telah kecanduan “nyontek”, bahkan “cruising” di toilet.
Dia, teman saya yang ini, hafal wajah orang-orang yang suka “main” di toilet Plaza Indonesia (dan E.X), Ada bule tua, dan ada juga brondong, katanya. Teman saya pernah mencoba hampir semua dari mereka, baik cuma “contek-contekan”, atau sekedar pegang-pegangan sampai tegang, maupun oral. Di dalam toilet yang berdinding? Tidak, melainkan ya di depan deretan urinoir itu. Menurut dia, kalau di dalam toilet yang berdinding justru berisiko lebih besar karena kalau ketahuan mau lari ke mana? Sedangkan, kalau di luar, maksudnya di depan urinoir yang terbuka, bisa mengantisipasi kalau sewaktu-waktu ada orang masuk. Begitu terdengar suara pintu dibuka, langsung berhenti dan pura-pura kencing lagi, katanya. Apa tidak takut kepergok satpam? Apa tidak begini? Apa tidak begitu? Kalau begini gimana? Kalau begitu gimana? Pertanyaan saya tak ada habisnya, tapi teman saya selalu punya jawaban yang membuat segalanya seolah-olah begitu sederhana. Memang susah membayangkannya, tapi teman saya menceritakannya dengan wajah yang berseri-seri, menandakan bahwa ia sangat berpengalaman dan menikmati petualangannya itu.
*) tulisan ini diambil dari http://mumualoha.blogspot.com atas izin –dan telah diperbarui dengan data-data baru oleh– pemiliknya.
4 responses so far ↓
ten // September 2, 2008 at 2:24 am |
oke jg……….
queernation // September 2, 2008 at 2:59 am |
apanya nih yg oke? hehe. btw salam kenal. thx udah berkunjung.
alfarizy // November 3, 2008 at 1:31 pm |
yaelahhhhh
yustina // December 3, 2008 at 5:41 am |
ok punya nih…hehe…