Dia tidak begitu cakep, dan usianya juga sudah bukan remaja lagi. Mungkin dia seorang make up artist yang sedang sepi job sehingga bisa berjalan-jalan pada jam ketika orang lain sibuk dan suntuk menyelesaikan tugas-tugas di kantor. Dia mengenakan topi, bercelana jins model masa kini yang berkantong belakang lebar dan tas selempang Billabong asli menggelayut di bahunya. Kaos distro membuat dia tampak lebih muda dari usia sesungguhnya. Beberapa menit lagi genap jam 11. Dia baru saja keluar dari areal kolam renang, dan sambil membayangkan pria yang tadi mandi bilas di sebelahnya, dia berjalan ke bagian depan kompleks plaza di Kuningan itu. Melintas di depan gerai toko buku bekas, dia berlalu begitu saja, lalu berdiri di depan lorong menuju fitness centre. Di depan tempat olah kebugaran itu ada toilet yang biasa dimanfaatkan oleh lelaki-lelaki penyuka sesama jenis menyalurkan kegemarannya “menyontek”. Dia tidak masuk ke toilet itu, dan hanya berdiri saja di depan lorong, gamang, seperti mencari sesuatu, seperti menunggu seseorang. Sejenak dia melemparkan pandangannya ke depan, ke arah kerumunan atlet-atlet basket yang sedang bersiap untuk latihan. Dia memperhatikan tubuh-tubuh tegap berlengan putih jenjang dan terbuka. Pada menit berikutnya, dia sudah mengalihkan pandangannya ke arah jalan. Terlihat beberapa lelaki yang tadi berenang bersamanya, termasuk yang mandi bilas di sebelahnya. Pada hari biasa, di saat jam kerja seperti ini, kolam renang itu ternyata ramai juga oleh pria-pria gay. Apakah mereka tidak bekerja? batinnya. Ah, mungkin pria-pria itu juga punya pertanyaan yang sama atas diriku.
Tak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah warnet, dan dia sempat menatap pintu seolah tergoda untuk masuk. Tapi, selepas memperhatikan atlet-atlet tadi, dia melangkah menaiki tangga, menuju plaza. Melewati teras sebuah coffee shop dia sempat melirik tiga cowok yang duduk di situ, dan tatapannya bermuara pada satu yang berjaket sport kuning, berkacamata dengan rambut gondrong tipis ala Jepang. Tatapan matanya beradu beberapa detik dengan objek yang diperhatikannya namun dia tahu tidak ada alasan untuk berhenti, menyapa atau melakukan sesuatu yang sebenarnya dia inginkan. Harus ada alasan yang jelas untuk berkenalan dengan seseorang yang bahkan sudah kau yakini punya orientasi seksual yang sama denganmu. Dia berlalu, menuju ke gerai DVD bajakan. Dia melihat-lihat judul-judul DVD yang tertata rapi di rak sambil sesekali menoleh kembali ke arah cowok berjaket kuning. Dia hanya bisa melihat punggungnya. Sampai pada tolehan kesekian, cowok itu sudah menghilang entah kenapa, dan entah mengapa dia merasa kehilangan, merasa telah melewatkan sebuah kesempatan yang dia yakini terbuka untuknya, untuk segala yang bisa dan mungkin dilakukannya. Tiba-tiba dia merasa sangat bosan, dan berbalik badan meninggalkan tempat itu, melangkah melewati teras coffee shop yang tadi, yang menyisakan kursi-kursi kosong. Dia menuruni tangga yang sama, untuk kemudian tanpa tujuan yang pasti mendorong pintu warnet dan masuk pelan-pelan.
Waktu makan siang masih beberapa menit lagi, dan hari masih panjang. Ia tak ingin kembali ke kamar kontrakannnya cepat-cepat –tidak di saat dirinya sedang terbebas dari kesibukan kerja, dan bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Tapi, mengapa mencari satu orang kenalan saja, yang sesuai dengan kriteria yang diinginkannya, begitu susah? Dia merasa cukup tampan untuk pilih-pilih. Dia tahu, lelaki yang tadi mandi bilas di sebelahnya memperlihatkan tanda-tanda tertarik padanya. Dia ingat lelaki itu berkali memelorotkan celananya dan memamerkan penisnya, dan dia menanggapi dengan melakukan hal yang sama. Tapi, semua itu bukan berarti dia tertarik pada lelaki itu. Bukan tipenya. Bukan tipe yang diinginkan untuk diajaknya tidur bersama. Dia masuk ke chat room dan mulai melancarkan aksinya, tapi baru sebentar dia sudah merasa sangat bosan. Belum pernah dia merasa sebosan ini. Kini dia menyesali hari liburnya. Tiba-tiba dia ingin, hidupnya hanya diisi dengan kerja, kerja dan kerja sehingga dia bisa melupakan hasrat-hasrat lainnya. Apakah hidup sudah seputus asa itu? Tidak, dia menepis suara hatinya sendiri dengan keras. Dia bangkit, membayar ongkos warnet dan melangkah keluar, memandang langit lepas sambil berpikir, dia bisa melakukan apa saja yang ia mau, mendapatkan apa saja yang dia ingin, sekarang juga. Takkan kubiarkan kesendirian ini membunuhku.
3 responses so far ↓
consultation4man // August 21, 2008 at 9:11 am |
Saya seorang gay tapi menolak apabila gay dijadikan gaya hidup. Saya menjadi gay bukan karena saya ingin, tapi semua hanya karena masa kecil. Apa salah saya menjadi seperti ini? Saya tdk mau disalahkan! Tahu apa saya tentang gay waktu saya blm baligh? Tentu tak tahu apa2. Akan tetapi kejadian waktu kecil itu perlahan2 mengikuti pola pikir saya. Ada apa dengan saya? Saya tdk tahu. Saya hanya menjadikan ini sebagai cobaan dari Allah.
queernation // August 25, 2008 at 10:02 am |
mas consultation4man, terimakasih telah berkunjung dan berkomentar.
ya soal tolak-menolak sih atur ajalah gimana baiknya. tp menurut saya sih gak ada lho yg menjadikan gay sbg gaya hidup. maksud saya, istilah gay dijadikan gaya hidup itu kok rada2 absurd yaaaa…tp begini saja deh, mari kita jalani hidup masing2 sesuai keyakinan. artinya, yg meyakini ini cobaan ya silakan, yang punya keyakinan lain ya bebas-bebas aja…intinya gak usah repot2 amat. santai aja, rileks…
salam,
consultation4man // September 20, 2008 at 12:25 am |
ok thank sama moderator nih. link exchange dong mas…kabarin ya….