Ada apa dengan brondong-brondong berkemeja? Nggak ada apa-apa sih. Seneng aja ngeliatnya. Cowok-cowok yang belum lagi genap berusia 17 tahun, mengenakan kemeja warna gelap, motif kota-kotak atau pun garis-garis, terkesan “tua” tapi justru memberi akses lain pada penampilan mereka. Dewasa dalam penampakan, semakin membuat wajah-wajah mereka tampak imut, polos, bersahaja dan tak berdosa. Gambaran masa depan yang gemilang, optimis, sukses, mapan. Namun, lihat bagaimana ujung-ujung kemeja itu dibiarkan keluar dari celana, menjuntai, sedikit kepanjangan, nyaris menutupi pantat mereka. Rapi tanpa terkesan formal, sopan tapi tetap “memberontak”. Angkuh tapi mengundang, cuek dan oleh karenanya justru menggoda. Misteri yang tersimpan, teki-teki yang siap dipecahkan.
Entries from July 2008
Brondong-brondong Berkemeja
July 7, 2008 · 3 Comments
Categories: Uncategorized
Jakarta Great Sale 2008: Surga bagi Binan?
July 4, 2008 · 3 Comments
Binan-binan kelas menengah Jakarta berhamburan dari sarangnya, kata seorang teman.
Agak lama saya mencerna kalimat yang meluncur mulus dari bibirnya yang basah berkilau oleh lipglos itu. Saya perlu mengurai satu per satu kata-katanya untuk bisa memahaminya. Maklum, teman saya yang satu ini tergolong gay intelektual yang gemar mengumbar kalimat-kalimat bersayap yang mengandung unsur sinisme tinggi sehingga jika tidak hati-hati menafsirkannya bisa celaka.
Pertama, binan-binan. Ini bahasa pergaulan untuk “menghaluskan” kata “gay”. Tahu dong, kalau kau sedang bicara di tempat umum yang ramai, terus tiba-tiba ada yang menyelipkan kata gay di tengah obrolan, dijamin banyak mata dan telinga di sekeliling mendadak waspada, curiga dan penuh prasangka. Jadi, perlu sedikit pengelabuhan dengan eufemisme, meskipun kata binan sendiri sebenarnya jauh lebih “kasar” sebab itu berasal dari kata banci–>>binanci–>>binan. Padahal gay kan tidak sama dengan banci. Waduh, jadi kuliah etimologi nih hehehe.
Kedua, kelas menengah. Segala puji bagi Karl Marx. Terbukti, tak satu hal pun di muka bumi ini bisa lari dari realitas kelas. Termasuk, kaum gay pun berkelas-kelas ya, bok. Yuukkk. Dan, kelas menengah itu artinya kurang lebih ya mereka yang punya karier mapan, gaji tetap yang lumayan, gaya hidup kosmopolitan. Pendek kata, mereka biasa keluar-masuk mall, ngrumpi di Starbucks dan rutin clubbing di Centro.
Ketiga, Jakarta. Masih perlu penjelasan? Kota tercinta, surga bagi segala hasrat baik yang paling terang dan mulia sampai yang paling tersembunyi dan bejat. Tapi, apa bedanya coba?
Keempat, berhamburan (+ keluar dari sarangnya). Aduh ini kita sedang ngomongin apa atau siapa sih? Kok kedengarannya kayak lagi membahas soal burung atau ayam gitu ya. Lagian, kalau binan-binan Jakarta dibilang berhamburan dari sarangnya, memangnya selama ini mereka mengeram di mana? Hahaha.
Jadi, sebenarnya, ceritanya, teman saya itu sedang ngomongin tentang riuhnya mall-mall selama program great sale dalam rangka ultah Jakarta bulan ini. Menurut dia, great sale ini selain merupakan berkah bagi ibu-ibu bersasak, juga menjadi surga bagi para gay. Tentu saja saja, meskipun mungkin tidak tergolong gay intelektual, saya langsung menukas tanda tidak setuju dengan pendapatnya. Ini kan strereotip namanya. Gay selalu diindentikkan dengan aktivitas yang bernuansa konsumtif dan hedonis. Ini tidak fair.
Saya langsung menyerang intelektualitas teman saya itu, yang mestinya bisa berpikir lepas dari mitos-mitos seperti itu. Tapi, dengan gaya seorang “great debater” seperti biasanya, teman saya dengan mudahnya menumbangkan semua keberatan saya. “Alaaa nggak usah bicara stereotip, mitos. Lihat saja langsung ke Plaza Indonesia, Senayan City, Plaza Senayan, Grand Indonesia, Plaza Semanggi…sejauh mata memandang hanyalah binan, binan dan binan. Mereka seperti anak kecil yang sedang melompat-lompat sambil jejeritan di bawah guyuran hujan balon di acara pesta ulang tahun teman dekat.”
“Lho mereka berhak dong berpesta, secara mereka kan sudah kerja keras banting tulang. Ini saatnya mereka memberi hadiah bagi diri mereka sendiri. Dan, sadarkah dirimu, mungkin saja sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tidak diterima oleh keluarganya, terusir dan harus menghidupi diri sendiri? Mungkin perilaku belanja mereka yang, yeah terkesan lupa diri atau apalah istilahnya, itu tak lain sebentuk perlawanan juga, semacam dendam pada lingkungan yang menolak diri mereka, usaha untuk menunjukkan pada dunia, hei gue bisa lho hidup sendiri secara layak walau tak diterima di mana-mana dan terbuang.”
“Kamu terlalu heroik. Kenyataaanya nggak serumit itu kok. Ini semata hasrat yang tak terbendung dari manusia-manusia egois yang hanya tahu memikirkan dirinya sendiri, gak peka apalagi peduli dengan lingkungannya yang sedang didera kesusahan hidup akibat kenaikan harga BBM.”
“Aiiihh omonganmu tak ubahnya pengamat-pengamat di talkshow televisi yang nggak pernah menginjak bumi itu. Seolah-olah paling tahu tentang kesusahan rakyat padahal dirinya sendiri hidup di menara gading yang tak tersentuh oleh apa pun. Ayolah, lebih santai saja melihat semua ini. Kenapa sih selalu harus mengkontraskan dua hal yang memang punya ‘alam logika’ yang berbeda. Kenaikan BBM adalah satu hal, dan orang-orang yang kalap oleh great sale adalah hal yang lain…”
Teman saya terdiam. Agak lama. Saya jadi punya kesempatan untuk memikirkan semua omongan saya tadi. Mungkin teman saya benar. Mungkin saya termasuk yang tidak peka dan peduli lingkungan itu. Tapi, mengapa sih segala sesuatu mesti dikontraskan satu sama lain? Bukankah semua hal selalu bisa dilihat dari sudut yang lain, dengan cara yang berbeda? Kutinggalkan teman saya itu.
“Hei, mo ke mana?”
“Belanja lah, mumpung great sale!”
“Ikut dooong! Ke Zara dulu ya, kemarin udah ada yang aku incer. Terus abis itu ke Gap ya. Oh ya, ada sepatu di Puma yang harganya 800 jadi 400, tar ke sana juga ya, siapa tahu masih ada.”
Saya langsung bengong. Dasar binan!
Categories: Uncategorized
Afgan di Antara Olga dan Indra Bekti
July 2, 2008 · 5 Comments
Yang merasa sedang ditegur langsung melotot, “Gue juga normal. Emangnya nggak boleh laki ciuman ama laki?”
Afgan tersenyum culun, lalu turun dari panggung. Bekti dan Olga melanjutkan tugasnya, membawakan acara ulang tahun sebuah grup media besar yang disiarkan secara langsung oleh RCTI, Minggu (29/6) pukul 9 pagi itu. Olga membacakan pantun untuk memberi ucapan selamat ulang tahun kepada tuan rumah. Lalu, Bekti dengan antraktif bertepuk tangan dan memeluk Olga usai membacakan pantunnya.
Giliran Olga membalas, “ Eh, jangan peluk-peluk dong, ntar kita ada di internet lho,” lalu keduanya tertawa, seperti sedang menertawakan sesuatu. Hahaha. Saya suka lawakan mereka yang entah mereka sadari atau tidak, mereka sengaja atau tidak, telah meledek media massa yang tak henti-hentinya menjadikan isu identitas seksual artis sebagai komoditas gosip murahan.
Categories: Uncategorized
