Oleh Adi Marsiela (tulisan ini diambil dari beritaseni.com)
Panggung gelap. Suara orang berbincang-bincang menggema bersamaan dengan terbukanya tirai yang menutupi panggung itu.
Seberkas sinar dari sudut kanan belakang menyorot seorang penari yang kepalanya nyaris botak. Tanpa bicara, dia berjalan dan melilitkan tubuhnya pada satu dari tiga tali yang menjuntai ke bawah di atas panggung Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, Sabtu (1/11/08) malam.
Tali itu dimainkannya dengan luwes sembari tubuhnya bergerak meliuk-liuk. Sesekali dia bergelayutan ke kiri dan kanan panggung. Tali itu juga dia panjat, layaknya seorang pemain sirkus saja.
Seorang penari lain yang sudah tergelantung dan terlilit di tali yang tengah sejak panggung itu dibuka mulai melepaskan diri. Dia berputar seperti gasing yang baru dilepas dari talinya. Pria ketiga, yang nyaris telanjang, muncul dari kanan panggung. Dia mengambil tali yang terdekat dengannya dan langsung menggelayut.
Begitulah kelompok tari Compagnie Pal Frenak mengawali koreografi yang diberi judul “Les homes caches” atau para lelaki yang tersembunyi. Selama 39 menit, empat penari, masing-masing Zoltan Fekete, Balasz Baranyai, Valentin Bellot, dan Nelson Reguera berceloteh soal pria lewat gerakan tubuhnya.
Panggung yang cukup besar itu, mereka kuasai dari depan ke belakang, kiri ke kanannya. Mereka menjadikan panggung itu seperti alam bawah sadar manusia. Lewat alam pikiran itu, para penari ini mengajak penonton merefleksikan kembali pemikirannya soal keberadaan pria dalam hubungan sesama manusia.
Identitas maskulin tampak jelas saat mereka semua baru memasuki panggung. Dengan bertumpu pada tali, dua di antara empat penari itu melakukan gerakan memutar. Berputar seperti baling-baling dan kemudian tergantung di tali karena terlilit. Seperti itulah kehidupan, tidak bisa bergerak sendiri, harus tergantung pada orang lain sebagai mahluk sosial.
Para penari ini juga melihat setiap pria itu pada dasarnya adalah sosok yang sering terjebak dalam pilihan-pilihannya sendiri. Ada yang kemudian menyesalinya, ada yang menjalaninya, dan ada yang tidak puas terhadap dirinya sendiri. Kondisi ini mereka tampilkan dengan melilit seseorang di antaranya dengan tiga tali yang ada.
Buat Pal Frenak membicarakan pria tidak bisa dilepaskan dari kebutuhannya akan teman hidup. Baik itu yang berbeda jenis kelamin atau tidak. Bagian ini dia realisasikan ketika para penari melilitkan tali ke tubuhnya dan bergerak dengan centil. Mereka menggoda setiap penonton yang hadir lewat mimik dan gerakan tubuhnya.
Musik yang menjadi penanda buat mereka dalam menari ternyata menjadi pelengkap koreografi ini. Saat para penari menjadi centil, musik blues yang menjadi pengiringnya bercerita tentang banyaknya pria di dunia ini tapi tetap tidak berarti tanpa keberadaan perempuan.
Berbicara soal perempuan, dalam pandangan koreografer kelahiran Budapest ini dalam diri setiap lelaki juga ada sifat feminim. Meski sifat yang satu itu tidak ditunjukkannya secara jelas.
Zoltan mengapresiasinya dengan berpakaian dan berjalan seperti seorang model di atas catwalk. Tapi dia berjalan dengan memakai sepatu bot yang menggambarkan sifat kelaki-lakiannya. Demikian juga dengan gerakan tarinya, sekilas tegas, sekilas lembut.
Sifat kekanak-kanakan juga ditampilkan malam itu. Terlalu harfiah memang ketika para penari hanya mengenakan celana pendek memasang dot di mulutnya. Mereka juga berpose seperti layaknya binaragawan seolah menggambarkan anak-anak yang suka saling menjagokan dirinya. Padahal di akhir pertunjukan mereka membebaskan setiap penonton untuk memaknai koreografi yang sudah diciptakan sejak empat tahun lalu itu.
Hal yang sama terulang saat mereka hendak bercerita soal kerapuhan kaum adam ini. Sorot lampu ada atas terfokus di kiri panggung. Hanya terlihat tiga punggung dengan tangan membekap dari arah depan. Seperti gambaran orang yang terpuruk di tempat terdalam dan terjauh. Penonton melihatnya dari depan panggung seperti orang yang berpelukan.
Memang cukup banyak hal yang ingin diceritakan dalam karya ini. Seperti keinginan koreografernya sendiri untuk ‘mengeluarkan’ apa-apa yang tersembunyi dalam diri setiap para lelaki.

2 responses so far ↓
si buluk // December 1, 2008 at 2:49 pm |
lg blog walker nih,
tulisan yg okeh =)
eRWiNsTiFLeR // January 12, 2009 at 10:13 am |
nice,…