Tak perlu kata-kata. Nikmati saja. Ha ha

Tak perlu kata-kata. Nikmati saja. Ha ha

Categories: Uncategorized
Oleh Adi Marsiela (tulisan ini diambil dari beritaseni.com)
Panggung gelap. Suara orang berbincang-bincang menggema bersamaan dengan terbukanya tirai yang menutupi panggung itu.
Seberkas sinar dari sudut kanan belakang menyorot seorang penari yang kepalanya nyaris botak. Tanpa bicara, dia berjalan dan melilitkan tubuhnya pada satu dari tiga tali yang menjuntai ke bawah di atas panggung Gedung Kesenian Sunan Ambu Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, Sabtu (1/11/08) malam.
Tali itu dimainkannya dengan luwes sembari tubuhnya bergerak meliuk-liuk. Sesekali dia bergelayutan ke kiri dan kanan panggung. Tali itu juga dia panjat, layaknya seorang pemain sirkus saja.
Seorang penari lain yang sudah tergelantung dan terlilit di tali yang tengah sejak panggung itu dibuka mulai melepaskan diri. Dia berputar seperti gasing yang baru dilepas dari talinya. Pria ketiga, yang nyaris telanjang, muncul dari kanan panggung. Dia mengambil tali yang terdekat dengannya dan langsung menggelayut.
Begitulah kelompok tari Compagnie Pal Frenak mengawali koreografi yang diberi judul “Les homes caches” atau para lelaki yang tersembunyi. Selama 39 menit, empat penari, masing-masing Zoltan Fekete, Balasz Baranyai, Valentin Bellot, dan Nelson Reguera berceloteh soal pria lewat gerakan tubuhnya.
Panggung yang cukup besar itu, mereka kuasai dari depan ke belakang, kiri ke kanannya. Mereka menjadikan panggung itu seperti alam bawah sadar manusia. Lewat alam pikiran itu, para penari ini mengajak penonton merefleksikan kembali pemikirannya soal keberadaan pria dalam hubungan sesama manusia.
Identitas maskulin tampak jelas saat mereka semua baru memasuki panggung. Dengan bertumpu pada tali, dua di antara empat penari itu melakukan gerakan memutar. Berputar seperti baling-baling dan kemudian tergantung di tali karena terlilit. Seperti itulah kehidupan, tidak bisa bergerak sendiri, harus tergantung pada orang lain sebagai mahluk sosial.
Para penari ini juga melihat setiap pria itu pada dasarnya adalah sosok yang sering terjebak dalam pilihan-pilihannya sendiri. Ada yang kemudian menyesalinya, ada yang menjalaninya, dan ada yang tidak puas terhadap dirinya sendiri. Kondisi ini mereka tampilkan dengan melilit seseorang di antaranya dengan tiga tali yang ada.
Buat Pal Frenak membicarakan pria tidak bisa dilepaskan dari kebutuhannya akan teman hidup. Baik itu yang berbeda jenis kelamin atau tidak. Bagian ini dia realisasikan ketika para penari melilitkan tali ke tubuhnya dan bergerak dengan centil. Mereka menggoda setiap penonton yang hadir lewat mimik dan gerakan tubuhnya.
Musik yang menjadi penanda buat mereka dalam menari ternyata menjadi pelengkap koreografi ini. Saat para penari menjadi centil, musik blues yang menjadi pengiringnya bercerita tentang banyaknya pria di dunia ini tapi tetap tidak berarti tanpa keberadaan perempuan.
Berbicara soal perempuan, dalam pandangan koreografer kelahiran Budapest ini dalam diri setiap lelaki juga ada sifat feminim. Meski sifat yang satu itu tidak ditunjukkannya secara jelas.
Zoltan mengapresiasinya dengan berpakaian dan berjalan seperti seorang model di atas catwalk. Tapi dia berjalan dengan memakai sepatu bot yang menggambarkan sifat kelaki-lakiannya. Demikian juga dengan gerakan tarinya, sekilas tegas, sekilas lembut.
Sifat kekanak-kanakan juga ditampilkan malam itu. Terlalu harfiah memang ketika para penari hanya mengenakan celana pendek memasang dot di mulutnya. Mereka juga berpose seperti layaknya binaragawan seolah menggambarkan anak-anak yang suka saling menjagokan dirinya. Padahal di akhir pertunjukan mereka membebaskan setiap penonton untuk memaknai koreografi yang sudah diciptakan sejak empat tahun lalu itu.
Hal yang sama terulang saat mereka hendak bercerita soal kerapuhan kaum adam ini. Sorot lampu ada atas terfokus di kiri panggung. Hanya terlihat tiga punggung dengan tangan membekap dari arah depan. Seperti gambaran orang yang terpuruk di tempat terdalam dan terjauh. Penonton melihatnya dari depan panggung seperti orang yang berpelukan.
Memang cukup banyak hal yang ingin diceritakan dalam karya ini. Seperti keinginan koreografernya sendiri untuk ‘mengeluarkan’ apa-apa yang tersembunyi dalam diri setiap para lelaki.
Categories: Uncategorized
kapan terakhir kau dengar kata ‘dandy’?
di plaza indonesia atau sency
semua cowok berwajah beauty
goody bag di tangan kanan
mengempit tas besar di ketiak kiri
keluar-masuk gerai demi gerai
berbaur dengan ibu-ibu bersasak tinggi
“jeng, jeng ada midnigt sale lagi!”
seseorang bicara di telepon mengabari
handai taulan di seluruh pelosok city
jangan lupa habis ini ngupi-ngupi
segafredo is so ninety
exselco? plis deh, hari gini?
starbuck pilihan bijak nan kiwari
tempat ngumpul brondong masa kini
sapa tahu ada yang nyantol di hati
bisa dibawa pulang naik taksi
ajak makan dulu di sushi tei
sebelum nanti malam ditiduri
apalagi yang dicari
buang jauh-jauh basa basi
pun hipokrisi
hidup hanyalah mampir ngewi
kalau beruntung dapat model-tivi
zaman lagi susah gini
apa-apa kalau bisa mesti gratis
tapi kalau lagi apes terpaksa
ke belakang sizzler
300 ribu sudah dapat yang secakep
herjunot ali
minus AIDS, sudah barang pasti
Categories: Uncategorized
Ada apa dengan brondong-brondong berkemeja? Nggak ada apa-apa sih. Seneng aja ngeliatnya. Cowok-cowok yang belum lagi genap berusia 17 tahun, mengenakan kemeja warna gelap, motif kota-kotak atau pun garis-garis, terkesan “tua” tapi justru memberi akses lain pada penampilan mereka. Dewasa dalam penampakan, semakin membuat wajah-wajah mereka tampak imut, polos, bersahaja dan tak berdosa. Gambaran masa depan yang gemilang, optimis, sukses, mapan. Namun, lihat bagaimana ujung-ujung kemeja itu dibiarkan keluar dari celana, menjuntai, sedikit kepanjangan, nyaris menutupi pantat mereka. Rapi tanpa terkesan formal, sopan tapi tetap “memberontak”. Angkuh tapi mengundang, cuek dan oleh karenanya justru menggoda. Misteri yang tersimpan, teki-teki yang siap dipecahkan.
Categories: Uncategorized
Binan-binan kelas menengah Jakarta berhamburan dari sarangnya, kata seorang teman.
Agak lama saya mencerna kalimat yang meluncur mulus dari bibirnya yang basah berkilau oleh lipglos itu. Saya perlu mengurai satu per satu kata-katanya untuk bisa memahaminya. Maklum, teman saya yang satu ini tergolong gay intelektual yang gemar mengumbar kalimat-kalimat bersayap yang mengandung unsur sinisme tinggi sehingga jika tidak hati-hati menafsirkannya bisa celaka.
Pertama, binan-binan. Ini bahasa pergaulan untuk “menghaluskan” kata “gay”. Tahu dong, kalau kau sedang bicara di tempat umum yang ramai, terus tiba-tiba ada yang menyelipkan kata gay di tengah obrolan, dijamin banyak mata dan telinga di sekeliling mendadak waspada, curiga dan penuh prasangka. Jadi, perlu sedikit pengelabuhan dengan eufemisme, meskipun kata binan sendiri sebenarnya jauh lebih “kasar” sebab itu berasal dari kata banci–>>binanci–>>binan. Padahal gay kan tidak sama dengan banci. Waduh, jadi kuliah etimologi nih hehehe.
Kedua, kelas menengah. Segala puji bagi Karl Marx. Terbukti, tak satu hal pun di muka bumi ini bisa lari dari realitas kelas. Termasuk, kaum gay pun berkelas-kelas ya, bok. Yuukkk. Dan, kelas menengah itu artinya kurang lebih ya mereka yang punya karier mapan, gaji tetap yang lumayan, gaya hidup kosmopolitan. Pendek kata, mereka biasa keluar-masuk mall, ngrumpi di Starbucks dan rutin clubbing di Centro.
Ketiga, Jakarta. Masih perlu penjelasan? Kota tercinta, surga bagi segala hasrat baik yang paling terang dan mulia sampai yang paling tersembunyi dan bejat. Tapi, apa bedanya coba?
Keempat, berhamburan (+ keluar dari sarangnya). Aduh ini kita sedang ngomongin apa atau siapa sih? Kok kedengarannya kayak lagi membahas soal burung atau ayam gitu ya. Lagian, kalau binan-binan Jakarta dibilang berhamburan dari sarangnya, memangnya selama ini mereka mengeram di mana? Hahaha.
Jadi, sebenarnya, ceritanya, teman saya itu sedang ngomongin tentang riuhnya mall-mall selama program great sale dalam rangka ultah Jakarta bulan ini. Menurut dia, great sale ini selain merupakan berkah bagi ibu-ibu bersasak, juga menjadi surga bagi para gay. Tentu saja saja, meskipun mungkin tidak tergolong gay intelektual, saya langsung menukas tanda tidak setuju dengan pendapatnya. Ini kan strereotip namanya. Gay selalu diindentikkan dengan aktivitas yang bernuansa konsumtif dan hedonis. Ini tidak fair.
Saya langsung menyerang intelektualitas teman saya itu, yang mestinya bisa berpikir lepas dari mitos-mitos seperti itu. Tapi, dengan gaya seorang “great debater” seperti biasanya, teman saya dengan mudahnya menumbangkan semua keberatan saya. “Alaaa nggak usah bicara stereotip, mitos. Lihat saja langsung ke Plaza Indonesia, Senayan City, Plaza Senayan, Grand Indonesia, Plaza Semanggi…sejauh mata memandang hanyalah binan, binan dan binan. Mereka seperti anak kecil yang sedang melompat-lompat sambil jejeritan di bawah guyuran hujan balon di acara pesta ulang tahun teman dekat.”
“Lho mereka berhak dong berpesta, secara mereka kan sudah kerja keras banting tulang. Ini saatnya mereka memberi hadiah bagi diri mereka sendiri. Dan, sadarkah dirimu, mungkin saja sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tidak diterima oleh keluarganya, terusir dan harus menghidupi diri sendiri? Mungkin perilaku belanja mereka yang, yeah terkesan lupa diri atau apalah istilahnya, itu tak lain sebentuk perlawanan juga, semacam dendam pada lingkungan yang menolak diri mereka, usaha untuk menunjukkan pada dunia, hei gue bisa lho hidup sendiri secara layak walau tak diterima di mana-mana dan terbuang.”
“Kamu terlalu heroik. Kenyataaanya nggak serumit itu kok. Ini semata hasrat yang tak terbendung dari manusia-manusia egois yang hanya tahu memikirkan dirinya sendiri, gak peka apalagi peduli dengan lingkungannya yang sedang didera kesusahan hidup akibat kenaikan harga BBM.”
“Aiiihh omonganmu tak ubahnya pengamat-pengamat di talkshow televisi yang nggak pernah menginjak bumi itu. Seolah-olah paling tahu tentang kesusahan rakyat padahal dirinya sendiri hidup di menara gading yang tak tersentuh oleh apa pun. Ayolah, lebih santai saja melihat semua ini. Kenapa sih selalu harus mengkontraskan dua hal yang memang punya ‘alam logika’ yang berbeda. Kenaikan BBM adalah satu hal, dan orang-orang yang kalap oleh great sale adalah hal yang lain…”
Teman saya terdiam. Agak lama. Saya jadi punya kesempatan untuk memikirkan semua omongan saya tadi. Mungkin teman saya benar. Mungkin saya termasuk yang tidak peka dan peduli lingkungan itu. Tapi, mengapa sih segala sesuatu mesti dikontraskan satu sama lain? Bukankah semua hal selalu bisa dilihat dari sudut yang lain, dengan cara yang berbeda? Kutinggalkan teman saya itu.
“Hei, mo ke mana?”
“Belanja lah, mumpung great sale!”
“Ikut dooong! Ke Zara dulu ya, kemarin udah ada yang aku incer. Terus abis itu ke Gap ya. Oh ya, ada sepatu di Puma yang harganya 800 jadi 400, tar ke sana juga ya, siapa tahu masih ada.”
Saya langsung bengong. Dasar binan!
Categories: Uncategorized
Yang merasa sedang ditegur langsung melotot, “Gue juga normal. Emangnya nggak boleh laki ciuman ama laki?”
Afgan tersenyum culun, lalu turun dari panggung. Bekti dan Olga melanjutkan tugasnya, membawakan acara ulang tahun sebuah grup media besar yang disiarkan secara langsung oleh RCTI, Minggu (29/6) pukul 9 pagi itu. Olga membacakan pantun untuk memberi ucapan selamat ulang tahun kepada tuan rumah. Lalu, Bekti dengan antraktif bertepuk tangan dan memeluk Olga usai membacakan pantunnya.
Giliran Olga membalas, “ Eh, jangan peluk-peluk dong, ntar kita ada di internet lho,” lalu keduanya tertawa, seperti sedang menertawakan sesuatu. Hahaha. Saya suka lawakan mereka yang entah mereka sadari atau tidak, mereka sengaja atau tidak, telah meledek media massa yang tak henti-hentinya menjadikan isu identitas seksual artis sebagai komoditas gosip murahan.
Categories: Uncategorized
Dia tidak begitu cakep, dan usianya juga sudah bukan remaja lagi. Mungkin dia seorang make up artist yang sedang sepi job sehingga bisa berjalan-jalan pada jam ketika orang lain sibuk dan suntuk menyelesaikan tugas-tugas di kantor. Dia mengenakan topi, bercelana jins model masa kini yang berkantong belakang lebar dan tas selempang Billabong asli menggelayut di bahunya. Kaos distro membuat dia tampak lebih muda dari usia sesungguhnya. Beberapa menit lagi genap jam 11. Dia baru saja keluar dari areal kolam renang, dan sambil membayangkan pria yang tadi mandi bilas di sebelahnya, dia berjalan ke bagian depan kompleks plaza di Kuningan itu. Melintas di depan gerai toko buku bekas, dia berlalu begitu saja, lalu berdiri di depan lorong menuju fitness centre. Di depan tempat olah kebugaran itu ada toilet yang biasa dimanfaatkan oleh lelaki-lelaki penyuka sesama jenis menyalurkan kegemarannya “menyontek”. Dia tidak masuk ke toilet itu, dan hanya berdiri saja di depan lorong, gamang, seperti mencari sesuatu, seperti menunggu seseorang. Sejenak dia melemparkan pandangannya ke depan, ke arah kerumunan atlet-atlet basket yang sedang bersiap untuk latihan. Dia memperhatikan tubuh-tubuh tegap berlengan putih jenjang dan terbuka. Pada menit berikutnya, dia sudah mengalihkan pandangannya ke arah jalan. Terlihat beberapa lelaki yang tadi berenang bersamanya, termasuk yang mandi bilas di sebelahnya. Pada hari biasa, di saat jam kerja seperti ini, kolam renang itu ternyata ramai juga oleh pria-pria gay. Apakah mereka tidak bekerja? batinnya. Ah, mungkin pria-pria itu juga punya pertanyaan yang sama atas diriku.
Tak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah warnet, dan dia sempat menatap pintu seolah tergoda untuk masuk. Tapi, selepas memperhatikan atlet-atlet tadi, dia melangkah menaiki tangga, menuju plaza. Melewati teras sebuah coffee shop dia sempat melirik tiga cowok yang duduk di situ, dan tatapannya bermuara pada satu yang berjaket sport kuning, berkacamata dengan rambut gondrong tipis ala Jepang. Tatapan matanya beradu beberapa detik dengan objek yang diperhatikannya namun dia tahu tidak ada alasan untuk berhenti, menyapa atau melakukan sesuatu yang sebenarnya dia inginkan. Harus ada alasan yang jelas untuk berkenalan dengan seseorang yang bahkan sudah kau yakini punya orientasi seksual yang sama denganmu. Dia berlalu, menuju ke gerai DVD bajakan. Dia melihat-lihat judul-judul DVD yang tertata rapi di rak sambil sesekali menoleh kembali ke arah cowok berjaket kuning. Dia hanya bisa melihat punggungnya. Sampai pada tolehan kesekian, cowok itu sudah menghilang entah kenapa, dan entah mengapa dia merasa kehilangan, merasa telah melewatkan sebuah kesempatan yang dia yakini terbuka untuknya, untuk segala yang bisa dan mungkin dilakukannya. Tiba-tiba dia merasa sangat bosan, dan berbalik badan meninggalkan tempat itu, melangkah melewati teras coffee shop yang tadi, yang menyisakan kursi-kursi kosong. Dia menuruni tangga yang sama, untuk kemudian tanpa tujuan yang pasti mendorong pintu warnet dan masuk pelan-pelan.
Waktu makan siang masih beberapa menit lagi, dan hari masih panjang. Ia tak ingin kembali ke kamar kontrakannnya cepat-cepat –tidak di saat dirinya sedang terbebas dari kesibukan kerja, dan bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Tapi, mengapa mencari satu orang kenalan saja, yang sesuai dengan kriteria yang diinginkannya, begitu susah? Dia merasa cukup tampan untuk pilih-pilih. Dia tahu, lelaki yang tadi mandi bilas di sebelahnya memperlihatkan tanda-tanda tertarik padanya. Dia ingat lelaki itu berkali memelorotkan celananya dan memamerkan penisnya, dan dia menanggapi dengan melakukan hal yang sama. Tapi, semua itu bukan berarti dia tertarik pada lelaki itu. Bukan tipenya. Bukan tipe yang diinginkan untuk diajaknya tidur bersama. Dia masuk ke chat room dan mulai melancarkan aksinya, tapi baru sebentar dia sudah merasa sangat bosan. Belum pernah dia merasa sebosan ini. Kini dia menyesali hari liburnya. Tiba-tiba dia ingin, hidupnya hanya diisi dengan kerja, kerja dan kerja sehingga dia bisa melupakan hasrat-hasrat lainnya. Apakah hidup sudah seputus asa itu? Tidak, dia menepis suara hatinya sendiri dengan keras. Dia bangkit, membayar ongkos warnet dan melangkah keluar, memandang langit lepas sambil berpikir, dia bisa melakukan apa saja yang ia mau, mendapatkan apa saja yang dia ingin, sekarang juga. Takkan kubiarkan kesendirian ini membunuhku.
Categories: Uncategorized
Beberapa teman-jalan-malam-minggu saya punya kebiasaan yang menyebalkan setiap kami janjian untuk ketemuan. Saya sudah menunggu agak lama -kalau saya yang datang duluan- eh, giliran dia datang, tidak langsung menemui saya, tapi melambaikan tangan dari jauh, memberi isyarat bahwa dia akan ke toilet dulu. Tujuannya: ngaca, merapikan rambut, dan kalau perlu cuci muka. Gara-gara berteman dengan beberapa orang yang memiliki kebiasaan seperti itu, saya jadi paham mengapa toilet-toilet di mal-mal di Jakarta diberi label restroom. Atau, bahkan ada yang cuma “men’s room”/”women’s room”. Artinya, fungsi toilet bukan sekedar untuk buang air, besar maupun kecil. Dalam bahasa yang lebih ‘ngelmu’, toilet memiliki fungsi sosial yang cukup luas.
Saya jadi ingat toilet di sekolah saya dulu yang dinding-dindingnya penuh coretan. Ada gambar hati ditembus panah, ada nama-nama perempuan dan laki-laki dan ada pernyataan-pernyataan yang bersifat pribadi. Setiap membaca coretan-coretan itu, dulu, saya sering mikir, kok ya sempat-sempatnya orang yang melakukan itu. Apakah mereka memang niat dari awal, sehingga ketika hendak buang air menyiapkan pulpen/spidol di kantong? Bertahun kemudian, setelah mendapat kuliah Pengantar Sosiologi, saya baru bisa mengatakan bahwa itulah salah satu fungsi sosial toilet umum. Termasuk toilet di sekolah. Bahkan, semasa kuliah itu, saya melihat toilet di kampus pun -yang penghuninya notabene orang-orang yang dicitrakan sebagai kelompok intelektual- tak luput dari graffiti-grafiti konyol.
Salah satu adegan dalam film Janji Joni karya Joko Anwar dengan sangat baik menggambarkan fungsi sosial lain dari toilet. Yakni, sebagai salah satu arena bagi berlangsungnya salah satu bentuk ikatan sosial: bergosip. Mungkin Anda sendiri melakukannya. Begitu keluar dari bioskop, Anda biasanya setengah berlari ke toilet dan di situlah, sambil berdiri di urinoir membuang air kencing, Anda membicarakan film yang baru saja Anda tonton dengan teman atau pasangan Anda. Pada masa-masa awal saya meniti karier (ceileee!) kewartawanan di Jakarta, saya mendengar dari teman saya, seorang wartawan tabloid ‘esek-esek’ bahwa toilet di Blok M Plaza sering digunakan oleh cowok-cowok gay mencari mangsa. Mereka bahkan melakukan aksinya di situ, baik sekedar saling melihat penis atau lebih jauh lagi, seks oral. Belakangan saya tahu, saling melihat penis itu namanya “nyontek”, dan melakukan hubungan seks kilat (apa pun bentunya) itu istilahnya “cruising”.
Dan, belakangan saya tahu lebih banyak lagi. Bahwa toilet umum merupakan titik penting bagi perjumpaan sosial kaum gay metropolitan. Tidak hanya toilet mall, melainkan hampir semua toilet yang terbuka untuk publik, dari masjid hingga terminal! Saya ingat, pada awal 2000-an, sebuah tabloid di Jakarta melaporkan adanya sejumlah gay yang suka beraksi di urinoir Masjid Istiqlal yang memang “sangat terbuka” dan memungkinkan pria-pria gay “menyontek”. Lama kelamaan aksi sembunyi-sembunyi itu terendus, dan pihak masjid pun membuat pun melakukan langkah preventif dengan membuat sekat-sekat pada urinoir tersebut. Pantauan terbaru saya belum lama ini ke toilet Terminal Blok M yang kumuh, ternyata juga mendapati jejak-jejak aksi kaum gay. Pada toilet yang berbilik (baca: kamar mandi) terdapat coretan-coretan di dinding berupa nama dan nomer telepon dengan tambahan informasi serupa “butuh brondong” atau “melayani oral seks”.
Pusat-pusat keramaian di Jakarta, dalam aneka bentuk dan sebutan, dari mall hingga town square, telah melahirkan komunitas-komunitas gay yang memang tak pernah henti mencari ruang-ruang sosialisasi. Toilet barangkali hanya bagian kecil, dan mungkin tahap awal, dari modus sosialisasi itu. Di toilet, kau tak perlu kenal siapa lelaki di sebelahmu, dan tanpa perlu saling menyebutkan nama terlebih dahulu, kau sudah langsung bisa melihat seberapa besar penisnya, apa warnanya dan sebagus apa bentuknya. Ini tentu gambaran ekstremnya. Orang bisa menyebut itu seks instan, atau petualangan, tapi setiap orang -saya percaya- cukup dewasa untuk tahu apa yang dilakukannya. Saya punya teman yang bahkan diajak ketemuan di mall pun ogah dengan alasan ini dan itu. Tapi, saya juga berteman baik dengan orang yang telah kecanduan “nyontek”, bahkan “cruising” di toilet.
Dia, teman saya yang ini, hafal wajah orang-orang yang suka “main” di toilet Plaza Indonesia (dan E.X), Ada bule tua, dan ada juga brondong, katanya. Teman saya pernah mencoba hampir semua dari mereka, baik cuma “contek-contekan”, atau sekedar pegang-pegangan sampai tegang, maupun oral. Di dalam toilet yang berdinding? Tidak, melainkan ya di depan deretan urinoir itu. Menurut dia, kalau di dalam toilet yang berdinding justru berisiko lebih besar karena kalau ketahuan mau lari ke mana? Sedangkan, kalau di luar, maksudnya di depan urinoir yang terbuka, bisa mengantisipasi kalau sewaktu-waktu ada orang masuk. Begitu terdengar suara pintu dibuka, langsung berhenti dan pura-pura kencing lagi, katanya. Apa tidak takut kepergok satpam? Apa tidak begini? Apa tidak begitu? Kalau begini gimana? Kalau begitu gimana? Pertanyaan saya tak ada habisnya, tapi teman saya selalu punya jawaban yang membuat segalanya seolah-olah begitu sederhana. Memang susah membayangkannya, tapi teman saya menceritakannya dengan wajah yang berseri-seri, menandakan bahwa ia sangat berpengalaman dan menikmati petualangannya itu.
*) tulisan ini diambil dari http://mumualoha.blogspot.com atas izin –dan telah diperbarui dengan data-data baru oleh– pemiliknya.
Categories: Uncategorized
Di antara sekian banyak hal yang bisa dilakukan sepulang kerja, berenang merupakan aktivitas favorit sebagian pria-pria homoseksual di Jakarta. Tentunyaaaa! Chatting? Udah nggak “njaman”. Fitnes? Itu hanya kerjaan binan-binan gatel tapi munafik. Beraninya curi-curi pandang ke arah paha atau bokong cowok di sebelah dengan muka pengen, tapi nggak berani lebih dari itu! Renang itu lebih jujur, dan tentu saja hasilnya lebih maksimal dalam mendatangkan kepuasan. Kepuasan apa nih? Jangan cerewet, ikut sajalah! Kita di masa depan. Tapi, kita tidak sedang menuju Jakarta Barat, melainkan Pasar Festival Kuningan. Di situ ada kolam renang yang cukup legendaris. Tiketnya Rp 10 ribu, dengan bonus “nyontek” gratis, kalau mau. Kenapa musti pakai “kalau mau”? Sebab, di sini kau akan lebih banyak bertemu dengan bapak-bapak tua, benar-benar tua (tandanya: kulit udah keriput), dan mas-mas kantoran berperut buncit, cina maupun pribumi. Oke, mungkin kau akan bilang, apa salahnya bapak-bapak atau mas-mas kalau emang cakep. Saya kasih tahu ya, mereka telanjang bulat pun kau tak akan tergoda, bahkan rasanya tak tega untuk sekedar meliriknya. Oh My God, separah itukah?
Tentu saja “horor” tadi hanya sebagian kecil saja sisi kolam renang Pasar Festival. Selebihnya, tempat ini tetap cukup menjanjikan. Yeah, tarafnya emang cuma “cukup”, tidak banyak atau apalagi lebih. Tapi, ya tergantung juga sih, apakah hari itu sedang hari keberuntunganmu. Yang jelas, di sinilah segala hasrat terpendam bisa disalurkan. Tentu saja di sini pun kita akan bertemu orang-orang munafik. Tapi, persetanlah dengan mereka. Maksud saya, orang-orang seperti itu di mana-mana memang ada kan, dan itu menyedihkan, jadi ya biarkan saja mereka, lama-lama juga lumutan. Jadi, asik-asik dan santai-santai saja, nyamankan diri sendiri sesuai dorongan hati nurani (aduh, ini ngomong apa sih hihihi). Tips dari saya, nikmati saja apa yang bisa dinikmati sebagai pemandangan. Maksud saya, selain oom-oom berperut buncit yang, well, tidak sedap dipandang tadi, sebenarnya tetap ada kok brondong-brondong berboxer tipis atau cowok-cowok usia kuliahan atau pun sudah kerja, berkulit mulus, bertubuh bagus dengan celana renang yang sangat mini dan ketat. Dan, jangan khawatir, akan selalu ada cowok-cowok yang sadar kalau dirinya memang cukup indah dipandang mata, sehingga punya kecenderungan eksibisionis alias suka pamer. Mereka ini sebagian ada yang tidak mengenakan celana renang, melainkan celana dalam, biasanya dari merk yang mahal (namanya juga pamer kan?) dan mereka tidak nyemplung di kolam tapi mondar-mandir, entah ke kantin atau ke toilet.
Mondar-mandir memang merupakan aktivitas yang cukup mendominasi di sini. Artinya, yang benar-benar datang untuk berenang boleh jadi cuma 30 persen. Selebihnya, tujuan utama mereka adalah ruang bilas/ruang ganti. Mereka akan berlama-lama di shower sambil saling pamer tubuh dan saling pandang. Para eksibisionis akan melepas celana renang atau boxer mereka, hingga tinggal menyisakan celana dalam, lalu mandi di bawah shower sambil memutar-mutar tubuhnya, sengaja, agar orang lain bisa melihat perut mereka yang rata, dan bulu-bulu kemaluan yang menyembul dari bagian atas celana dalam. Mereka juga akan menyabun tubuh-tubuh mereka dengan gerakan-gerakan yang, ow, sok seksi dan mengundang. Dan, nanti, ada saatnya mereka akan merogoh-rogohkan tangan ke balik celana untuk membersihkan apa yang ada di dalamnya. Mereka akan mandi berlama-lama, selama mungkin mereka bisa. Dan, semua itu akan berlanjut di kamar ganti yang bertirai. Di sini pun orang akan berlama-lama. Mula-mula naruh tas dulu, lalu keluar, ngaca di depan cermin yang ada di situ, lalu “meninjau” urinoir siapa tahu ada yang “layak contek” lalu balik lagi ke baik tirai untuk mulai berpakain. Kadang ada yang keluar lagi dari tirai dengan hanya bercelana dalam, bercermin lagi, pamer atau sengaja mengundang, siapa tahu ada yang berminat.
Ada juga yang datang ke kolam renang dengan pasangannya, atau rombongan satu geng, dan mereka akan berisik sekali selama di mandi bilas dan di kamar ganti. Jangan terkejut kalau ada mas-mas gendut berkumis bicara dengan pasangannya di depan kamar ganti dengan mesra seperti ini, “Papa sudah selesai belum?” Sedangkan yang punya rombongan akan bercanda dan tertawa keras-keras, berusaha menjadi pusat perhatian. Ada yang datang hanya untuk duduk-duduk di pinggiran kolam, ngrumpi, menelepon berlama-lama, atau janjian ketemuan. Pada hari-hari biasa, kolam renang praktis jadi milik para gay. Sedangkan pada akhir pekan, di samping para gay tetap mendominasi, banyak anak-anak kecil yang diantarkan orangtua mereka. Para orangtua yang menunggui anak-anak mereka berenang itu mendapatkan pemandangan yang sering membuat mereka terbengong-bengong: pria berbadan kekar, bertampang macho, kulit gelap, dengan celana renang mini warna pink kembang-kembang, mondar-mandir dari kolam ke toilet sambil melenggak-lenggokkan kepalanya dan mulut tak henti bersenandung, “Kau hancurkan aku dengan sikaaapmuuuuuuu….”
Categories: Uncategorized
Kahlil Gibran hidup pada era yang jauh sebelum Gap dan Zara merambah kota-kota di seluruh dunia. Tak heran jika dalam salah satu syairnya, dia menulis lirik yang berbunyi, pakaian menyembunyikan keindahan.
Kita hidup di zaman ketika fashion benar-benar telah mengubah wajah dunia. Belum pernah terjadi sebelumnya lelaki-lelaki terlihat begitu anggun dan menawan (dan perempuan-perempuan semakin dinamis dan elegan). Pakaian yang melekat di tubuh telah jauh meninggalkan fungsi dasarnya yang berkaitan dengan tuntutan kemanusiaan (menutup kemaluan, tata-krama sosial). Melainkan, memiliki “otonomi” yang besar sebagai bagian dari “eksistensi” itu sendiri. Dengan kata lain, busana yang kita kenakan mendefinisikan siapa diri kita, status kita dalam masyarakat dan menentukan berbagai citra lain yang lebih luas dan kompleks.
Maka, berkebalikkan dari apa yang pernah dikatakan Gibran, saat ini pakaian tidak penyembunyikan –tapi menegaskan, menambah dan menyempurnakan– keindahan (tubuh) kita. Fashion pun menjadi sebuah sistem yang “melampaui” tubuh. Dia memberi (tubuh) kita identitas. Kalau ada revolusi paling besar dan paling tidak berdarah dalam sejarah umat manusia, maka itu tak lain revolusi fashion. Mungkin saya agak berlebihan dengan membawa-mbawa istilah revolusi. Tapi, coba perhatikan ilustrasi kecil ini, yang barangkali bisa bercerita banyak tentang apa yang terjadi: pria-pria muda dengan boxer yang menyembul dari balik ujung celana jins mereka.
Boxer-boxer itu tidak (semata) berfungsi sebagai “celana dalam”. Mereka bagian dari kesadaran berfashion yang sama pentingnya dengan jins (dan baju) yang ada di luarnya. Warnanya dipilih dengan perhitungan estetis, juga motifnya. Tak seorang pun memakai boxer dengan sembarangan, melainkan diperhitungkan sebagai bagian dari penampilan secara keseluruhan. Boxer adalah sebuah ekstrem yang mengubah definisi (maskulitas) laki-laki.
Duapuluh atau bahkan 10 tahun lalu, sulit membayangkan pria-pria “berani” memakai kaos kuning atau hijau, celana kotak-kotak jambon sebatas dengkul, dan memamerkan “kolor” (baca: boxer) berwarna merah hati motif polkadot putih kecil-kecil, atau pink bergambar karakter-karakter kartun. Inilah revolusi: ketika kuda ungu berpose di depan bunga-bunga, maka citra dan identitas maskulin telah berubah untuk selamanya…
Categories: Uncategorized