things are queer

Cowok Berkaos “Bad Girl”

June 12, 2008 · Leave a Comment

Habis mengaduk-aduk DVD bajakan di Glodok Plaza, seperti biasa, aku membeli segelas teh liang kesukaanku. Badan yang letih dan lengket oleh keringat jadi terasa segar kembali. Segelas teh dingin nan manis itu seperti menyuntikkan energi baru untuk melangkah ke halte busway. Begitu lihat antrian yang cukup panjang, badan mendadak jadi lemas kembali. Untunglah, selalu ada pemandangan segar yang membuat segala duka dan lara di perjalanan mudah terlupakan. Apalagi ini Glodok. Cowok-cowok cina bertebaran, dengan celana tiga perempat dan tak jarang mengenakan tanktop yang memperlihatkan lengan yang putih, padat dan jenjang. Tapi, sumber kegairahanku pada Minggu siang kemarin itu bukankah pemandangan seperti itu, melainkan seorang cowok berkaos kuning bertuliskan “Bad Girl”. Dia mengantri di loket busway tepat di belakangku, lalu masuk dengan langkah ragu-ragu. “Mau ke mana sih, tanya ama gue sini!” Tentu saja kalimat itu hanya terucap di dalam hati. Gila apa, kalau aku seberani itu. Maksudku, kalau aku seberani itu, pastilah hidup ini jadi jauh lebih mudah. Dia bertanya pada penjaga, lalu masuk ke barisan antrian menunggu busway datang. Aku duduk, memandanginya, dan masih memikirkan warna kaosnya (kuning?) dan tulisan di kaos itu (“bad girl”?).

 

Inilah salah satu bagian paling menarik dari berjalan-jalan di kota ini. Cowok berumur 20-an tahun adalah satu hal, dan kaos bad girl adalah hal yang lain. Ketika itu dua subjek itu bertemu, menyatu, membentuk sebuah subjek “baru” yang utuh, maka tidak bisa tidak, melahirkan makna baru pula, dan dengan demikian mengundang penafsiran baru. Tidak perlu belajar semiotika untuk melihat bagaimana Jakarta sehari-hari membuka dirinya, lapis demi lapis, seperti film misteri yang perlahan-lahan menuntun penontonnya menguak teki-teki hingga sampai pada akhir cerita yang terang. Tidak penting lagi, apakah memang benar-benar ada “misteri” di balik kaos bad girl itu, sebab pada akhirnya, yang terpenting adalah persepsi yang telanjur menancap di kepala. Persepsi yang sengaja kita paksakan, tanpa peduli kebenarannya, karena memang tidak diperlukan kebenaran apapun. Ketika kita melihat satu cowok di antara 5 cewek, dengan riuh mengantri di kios foto box Blom M Plaza, otak ini langsung dengan centil mengirimkan sinyal, “Hmm…pasti deh dia gay!” Atau, ketika melihat cowok berjalan sendirian di Plaza Indonesia, dengan syal hitam melambai-lambai di lehernya dan tas Louise Vuitton palsu menjuntai di pundaknya…”Wow, binan banget!”

 

Cowok berkaos “bad girl” itu akhirnya satu busway denganku, tapi dia turun lebih dulu. Tubuhnya yang tinggi, punggungnya yang kurus namun tegap dan kulitnya yang terang nan mengundang, perlahan-lahan menjauh dari pandanganku, dan akhirnya benar-benar menghilang. Beberapa menit setelah itu, aku masih memikirkannya, terbayang-bayang pada misterinya. Namun, ketika menit terus berjalan dan semakin jauh, aku pun dengan sendirinya melupakannya. Untuk kemudian, menemukan misteri-misteri serupa, kegairahan-kegairahan di balik penampilan, ekspresi ungkapan identitas yang malu-malu, yang tak putus-putus datang dan pergi, di ruang-ruang publik kota, menjadi semacam kelebat bayangan di pelupuk mata. 

 

 

 

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized

Berbeda-beda tapi Harus yang Itu-itu Juga

June 12, 2008 · 2 Comments

Waktu dulu bapak-bapak dan ibu-ibu guru mengajarkan kepada kita tentang Bhinneka Tunggal Ika, tanpa kita sadari, kebolehan untuk berbeda itu sebenarnya dibatasi juga. Bebas memeluk agama apa saja, asal salah satu dari yang lima itu. Dari suku mana pun asalmu tidak masalah, tapi, kalau kau keturunan etnis Cina, tahu sendirilah. Dan jangan tanya lagi soal di mana tempat bagi misalnya kaum gay, lesbian dan transeksual dalam konsep luhur Bhinneka Tunggal Ika itu. Orang Jawa punya ungkapan “begitu ya begitu tapi ya jangan begitu-begitu amatlah”. Dalam konteks Bhinneka tadi sebenarnya berlaku “beda ya beda tapi ya jangan beda-beda banget gitu lho!”

 

Belakangan ini, isu tentang perbedaan mengemuka menjadi bahan diskusi di mana-mana. Semakin tampak bahwa masyarakat kita sebenarnya fobia terhadap keanekaragaman. Jangankan jelas-jelas beda agama, lha wong dalam satu agama yang sama saja orang bisa gontok-gontokkan, saling merasa kelompok atau alirannya yang paling benar dan seterusnya. Dalam soal suku asal, yang terjadi juga tak jauh beda. Kita masih sering mendengar orang mengolok lainnya dengan ungkapan, “Dasar Jawir lu!”, “Maklum kalau dia pelit, Padang sih!”, “Dia kan tipe Sunda matre, bok!” dan sebagainya.

 

Lebih gawat lagi kalau sudah memasuki isu identitas seksual. Sejauh ini, orang masih menganggap bahwa gay, lesbian dan transeksual itu penyakit, dan oleh karenanya harus disembuhkan. Lihat saja kolom-kolom konsultasi psikologi di koran-koran. Kita mengelus dada menyaksikan betapa mereka yang berprofesi psikolog saja masih memandang bahwa homoseksualitas itu penyimpangan. Hal ini diperparah dengan berbagai tayangan televisi yang setiap kali menampilkan sosok gay, lesbian maupun waria selalu hanya difungsikan sebagai pelengkap penderita, bahan tertawaan, objek olok-olokan hingga simbol kemerosotan moral.

 

Menyusul terjadinya peristiwa FPI vs AKKBB yang sepertinya akan berlanjut dengan gelombang besar penolakan terhadap Ahmadiyah, rasanya menjadi berbeda di negeri ini semakin berat dan sulit. Ini memang soal mind set. Soal ideologi. Berbeda tidak hanya dianggap “salah”, tapi juga berarti “melawan” dan mengancam eksistensi mayoritas. Kalau kau berbeda, kau membuat orang lain ketakutan, karena perbedaanmu membuat mereka meragukan “kebenaran” keberadaan mereka selama ini.

→ 2 CommentsCategories: Uncategorized

Queer Eyes for Jakarta

June 12, 2008 · Leave a Comment

Serombongan brondong lucu-lucu “beredar” di Blitz pada malam Minggu itu. Seperti biasa, semakin malam semakin ramai saja kompleks sinema di lantai 8 Grand Indonesia yang menjadi tempat hang out baru anak-anak gaul Jakarta, termasuk, tentu saja kalangan gay-nya. Dan, tidak sulit memang mengindentifikasi bahwa serombongan brondong tadi itu adalah para gay yang sedang merayakan masa-masa akhir usia SMU mereka. Salah satu di antara mereka tampak menenteng DVD (bajakan tentu saja) Gossip Girls episode 18. Sementara, pada bagian lain dari kota yang sama, dengan jarak yang tak terlalu jauh, lelaki-lelaki gay yang sudah tidak remaja lagi, memenuhi bangku-bangku Kafe Ohlala Djakarta Theater, minum bir botol sambil menyaksikan American Top Model dari dua layar televisi besar yang dipasang di dinding. Ini tahun 2008. Tidak ada lagi cowok yang malu-malu berdandan dan berjalan ngondek memasuki Halte Busway Blok M untuk menuju ke ML, diskotek kumuh namun satu-satunya gay-club di Indonesia, yang terletak di Jalan Hayam Wuruk. Ini era ketika seorang barista Starbucks, anggota penari latar Agnes Monica dan seorang make-up artist duduk satu meja dan dengan fasih membahas serial Dante’s Cove dan Queer as Folk. Kau di mana-mana atau pun tidak di mana-mana, Jakarta tetap akan membuka dirinya sebagai ruang-ruang yang semakin ter-queer-kan. Selamat datang, dan bergabung…

 

 

 

→ Leave a CommentCategories: Uncategorized