Habis mengaduk-aduk DVD bajakan di Glodok Plaza, seperti biasa, aku membeli segelas teh liang kesukaanku. Badan yang letih dan lengket oleh keringat jadi terasa segar kembali. Segelas teh dingin nan manis itu seperti menyuntikkan energi baru untuk melangkah ke halte busway. Begitu lihat antrian yang cukup panjang, badan mendadak jadi lemas kembali. Untunglah, selalu ada pemandangan segar yang membuat segala duka dan lara di perjalanan mudah terlupakan. Apalagi ini Glodok. Cowok-cowok cina bertebaran, dengan celana tiga perempat dan tak jarang mengenakan tanktop yang memperlihatkan lengan yang putih, padat dan jenjang. Tapi, sumber kegairahanku pada Minggu siang kemarin itu bukankah pemandangan seperti itu, melainkan seorang cowok berkaos kuning bertuliskan “Bad Girl”. Dia mengantri di loket busway tepat di belakangku, lalu masuk dengan langkah ragu-ragu. “Mau ke mana sih, tanya ama gue sini!” Tentu saja kalimat itu hanya terucap di dalam hati. Gila apa, kalau aku seberani itu. Maksudku, kalau aku seberani itu, pastilah hidup ini jadi jauh lebih mudah. Dia bertanya pada penjaga, lalu masuk ke barisan antrian menunggu busway datang. Aku duduk, memandanginya, dan masih memikirkan warna kaosnya (kuning?) dan tulisan di kaos itu (“bad girl”?).
Inilah salah satu bagian paling menarik dari berjalan-jalan di kota ini. Cowok berumur 20-an tahun adalah satu hal, dan kaos bad girl adalah hal yang lain. Ketika itu dua subjek itu bertemu, menyatu, membentuk sebuah subjek “baru” yang utuh, maka tidak bisa tidak, melahirkan makna baru pula, dan dengan demikian mengundang penafsiran baru. Tidak perlu belajar semiotika untuk melihat bagaimana Jakarta sehari-hari membuka dirinya, lapis demi lapis, seperti film misteri yang perlahan-lahan menuntun penontonnya menguak teki-teki hingga sampai pada akhir cerita yang terang. Tidak penting lagi, apakah memang benar-benar ada “misteri” di balik kaos bad girl itu, sebab pada akhirnya, yang terpenting adalah persepsi yang telanjur menancap di kepala. Persepsi yang sengaja kita paksakan, tanpa peduli kebenarannya, karena memang tidak diperlukan kebenaran apapun. Ketika kita melihat satu cowok di antara 5 cewek, dengan riuh mengantri di kios foto box Blom M Plaza, otak ini langsung dengan centil mengirimkan sinyal, “Hmm…pasti deh dia gay!” Atau, ketika melihat cowok berjalan sendirian di Plaza Indonesia, dengan syal hitam melambai-lambai di lehernya dan tas Louise Vuitton palsu menjuntai di pundaknya…”Wow, binan banget!”
Cowok berkaos “bad girl” itu akhirnya satu busway denganku, tapi dia turun lebih dulu. Tubuhnya yang tinggi, punggungnya yang kurus namun tegap dan kulitnya yang terang nan mengundang, perlahan-lahan menjauh dari pandanganku, dan akhirnya benar-benar menghilang. Beberapa menit setelah itu, aku masih memikirkannya, terbayang-bayang pada misterinya. Namun, ketika menit terus berjalan dan semakin jauh, aku pun dengan sendirinya melupakannya. Untuk kemudian, menemukan misteri-misteri serupa, kegairahan-kegairahan di balik penampilan, ekspresi ungkapan identitas yang malu-malu, yang tak putus-putus datang dan pergi, di ruang-ruang publik kota, menjadi semacam kelebat bayangan di pelupuk mata.

